Kolom Prof Tjandra: Informasi Penularan COVID-19 Secara 'Airborne'

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 4 menit

VIVA –Jurnal kedokteran internasional “Lancet” pada 15 April 2021 beberapa hari yang lalu menyampaikan salah satu artikel yang banyak mendapat perhatian, yaitu 10 alasan tentang penularan COVID-19 terjadi secara “airborne”, menular di udara. Pada waktu yang hampir sama, pada 14 April 2021 jurnal internasional lain “The BMJ” juga mengupas tentang penularan “airborne” ini, dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Ke dua artikel ini memang bukan merupakan laporan hasil penelitian yang dilakukan oleh para penulisnya, tetapi lebih merupakan rangkuman dari berbagai informasi yang ada.

Sebenarnya diskusi tentang penularan di udara ini sudah pernah jadi berita pada bulan Juli 2020 tahun yang lalu ketika sejumlah pakar dari 32 negara menulis ke WHO bahwa memang ada bukti ilmiah bahwa virus korona menyebar secara “airborne”. Kemudian pernah juga ada publikasi CDC (Center of Disease Control) Amerika Serikat tentang hal ini. Pada September 2021 yang lalu CDC Amerika Serikat mempublikasikan informasi tentang kemungkinan penularan COVID-19 melalui “airborne” di udara bebas, tapi publikasi itu segera dicabut kembali dan disebutkan ada kesalahan dalam mempublikasikannya. Hal ini cukup menghebohkan.

Akhirnya, pada 5 Oktober 2021 CDC lalu membuat publikasi yang baru yang menyatakan bahwa "pada keadaan tertentu" ada potensi bahwa COVID-19 dapat menyebar secara airborne, lengkapnya dalam bahasa Inggrisnya disebutkan "under the special circumstances favorable to potential airborne transmission."

Jurnal Lancet 15 April ini memang judulnya jelas menyebutkan “Ten scientific reasons in support of airborne transmission of SARS-CoV-2”. Mereka sampaikan alasan pertama adalah bukti adanya penularan luas (“superspreader’) pada berbagai acara yang melibatkan banyak orang. Ke dua adanya penularan pada orang yang berada di ruang bersebelahan tanpa ada kontak langsung. Ke tiga adalah penularan dari OTG atau setidaknya sebelum gejala timbul (prasimtomatik) memang terjadi pada sepertiga atau bahkan ada laporan sampai 59 persen penularan di dunia. Artinya, virus dapat ditularkan melalui bicara atau bernyanyi dll yang menyebar ke udara.

Ke empat, bila ruangan diberi ventilasi udara terbuka maka penularan COVID-19 dapat berkurang, sehingga menambah alasan bahwa memang ada penularan melalui udara yang jadi berkurang karena ada pertukaran dengan udara luar. Alasan ke lima adalah tetap terjadinya penularan penyakit di rumah sakit yang petugasnya sudah menggunakan APD dengan ketat. Hal ini berhubungan dengan alasan ke enam bahwa memang virus SARS-CoV-2 sudah terbukti ditemukan ada di udara di tempat pasien di rawat dan juga di dalam mobil yang penumpangnya sakit COVID-19.

Alasan ke tujuh adalah ditemukannya virus SARS-CoV-2 pada filter dan juga saluran udara di rumah sakit, yang tentunya hanya bisa dicapai melalui aerosol di udara. Ke delapan, penelitian pada binatang menunjukkan penyakit COVID-19 ini dapat ditularkan dari binatang satu ke binatang lain di kandang yang berbeda, yang antara kandang dihubungkan dengan saluran udara. Ke sembilan, para penulis di jurnal Lancet ini menyebutkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang pasti dan kuat yang dapat membantah hipotesa bahwa virus SARS-CoV-2 dapat ditularkan secara “airborne”.

Alasan mereka yang ke sepuluh adalah tidak cukup banyak bukti ilmiah yang menunjukkan secara pasti bahwa penularan COVID-19 harius melalui droplet yang dibatukkan atau bahan “fomite” yang menempel di permukaan benda. Di sisi lain, tulisan di jurnal “The BMJ” 14 April 2021 menyatakan bahwa moda penularan utama virus SARS-CoV-2 adalah antara manusia yang berdekatan satu sama lainnya, melalui inhalasi. Kemungkinan penularan kalau dua orang berjauhan itu tidaklah terlalu penting dalam kehidupan sehari-hari, katimbang orang yang berdekatan sekitar 1 meter. Tetapi, memang tetap perlu diupayakan ventilasi terbuka dari suatu ruangan, sehingga kalau ada aeorosol yang mengandung virus di udara dalam ruangan dapat keluar dan tidak menulari orang di ruangan itu. Sementara itu, dari perkembangan sejauh ini maka penularan melalui kontak dengan permukaan benda relatif jarang terjadi.

Ke dua tulisan ilmiah ini tentu belum akan mengubah kebijakan 3 M kita, dan juga belum mengubah kebijakan dunia secara umum. Akan diperlukan data penelitian langsung yang lebih banyak lagi sampai kesimpulan yang sahih dapat diberikan. Tetapi, kita memang patut terus mengikuti berbagai perkembangan ilmiah terbaru tentang COVID-19, pandemi yang sampai kini masih me luluh lantakkan berbagai sendi kehidupan manusia.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Saat ini kasus COVID-19 masih tinggi, tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: Mamakai masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Cuci Tangan pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun