Kolom Prof Tjandra Yoga: Maret 2021 Tepat 1 Tahun Pandemi COVID-19

Adinda Permatasari
·Bacaan 3 menit

VIVA – Awal bulan Maret 2021 ini kita membaca berbagai berita dan analisa tentang setahun pandemi COVID-19, yang semua dihubungkan dengan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020. Sebenarnya, 2 Maret 2020 dunia belum dalam status pandemi. Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), baru menyatakan bahwa dunia dalam pandemi COVID-19 pada 11 Maret 2020, jadi setahun pandemi COVID-19 sebenarnya adalah pada 11 Maret 2021.

Kita tahu bahwa kasus COVID-19 pertama tercatat oleh kantor WHO China pada 31 Desember 2019, karena itulah ada angka “19” sesudah kata COVID. Lalu, pada 5 Januari 2021 keadaan ini diunggah di website WHO untuk pertama kali, waktu itu masih bernama “pneumonia of unknown origin”, artinya radang paru yang belum diketahui penyebabnya. WHO dan “The International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV)” baru pada 11 Februari 2020 secara resmi memberi nama “COVID-19” pada penyakit ini.

Sesudah ada informasi dari China tentang penyakit baru ini maka DirJen WHO segera membentuk “Emergency Committee”, ini sesuai aturan dalam “International Health Regulation (IHR)”. “Emergency Committee” melakukan rapat pertamanya pada 22 dan 23 Januari 2020 di mana belum sepenuhnya ada kesepakatan di antara para anggotanya. Komite ini lalu rapat lagi pada 30 Januari 2020 dan sesuai hasilnya maka DirJen WHO di hari yang sama menyatakan bahwa penyakit ini (waktu itu masih disebut sebagai “2019-nCoV”) sebagai “Public Health Emergency of International Concern” (PHEIC), suatu terminologi yang jelas tercantum dalam “International Health Regulation (IHR)”. PHEIC adalah kejadian luar biasa yang berisiko mengancam kesehatan masyarakat negara lain melalui penularan penyakit lintas batas negara dan membutuhkan tanggapan internasional yang terkoordinasi. Pada tanggal 30 Januari 2020 itu ada 7.711 kasus terkonfirmasi dan 12.167 suspek di China, dan baru ada 83 kasus di 18 negara di luar China.

Kemudian, kita tahu bahwa situasi terus meluas. Akhirnya, pada 11 Maret 2020, satu tahun yang lalu, Direktur Jenderal WHO menyatakan bahwa pandemi COVID-19 telah mulai terjadi. Pada tanggal itu baru ada 118.000 kasus di 114 negara, dan 4.291 kematian. Kini, setahun kemudian, pada 10 Maret 2021 sudah ada 117.332.262 kasus COVID-19 di seluruh dunia dan 2.605.356 orang yang meninggal. Juga, sampai 8 Maret 2021 sudah ada 268.205.245 dosis vaksin yang disuntikkan di berbagai negara di dunia.

Direktur Jenderal WHO juga sebelum ini pernah menyatakan pandemi di dunia. Pada 11 Juni 2009 Dirjen WHO ketika itu (Dr Margaret Chan) menyatakan dunia memasuki pandemi influenza H1N1. Perkembangan penyakit ketika itu lebih baik dari sekarang sehingga pada 10 Agustus 2010 maka dunia sudah masuk dalam masa pasca pandemi, “post pandemic period”. Artinya, pandemi terakhir sebelum COVID-19 ini hanya berlangsung selama 1 tahun 2 bulan saja. Ada 3 pernyataan penting yang disampaikan WHO setelah pandemi influenza H1N1 berakhir.

Pertama, virus H1N1 penyebab pandemi nampaknya masih akan bersirkulasi di dunia walaupun pandemi sudah berakhir. Kedua, masih mungkin akan banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab sehubungan dengan berbagai aspek pandemi ini, dan ketiga bahwa kewaspadaan tetap harus selalu terjaga untuk mengantisipasi wabah dan atau pandemi yang berikutnya.

Kita tentu harus terus berupaya keras agar pandemi COVID-19 dapat juga dikendalikan dan pada saatnya nanti dapat dihentikan, seperti juga pandemi-pandemi di masa lalu. Untuk itu, maka pelaksanaan 3M dan M-M lainnya, program 3T dan kegiatan vaksinasi harus dilakukan secara maksimal.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Saat ini kasus COVID-19 masih tinggi. Patuhi selalu protokol kesehatan dan tetap lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan Pakai Sabun

#pakaimasker
#satgascovid19
#jagajarak
#ingatpesanibu
#cucitaganpakaisabun