Kolom Prof Tjandra: Mutasi COVID-19 di Negara Tetangga

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sudah banyak dibicarakan tentang berbagai mutasi virus SARS CoV 2 penyebab COVID-19 dan juga dampaknya pada penyebaran penularan penyakit, membuat penyakit menjadi berat dan bahkan kematian serta kemungkinan dampaknya pada efikasi vaksin.

Tiga diantara mutasi dan varian ini paling banyak dibahas dan dikategorikan WHO sebagai “Variant of Concern (VOC)”, yaitu B.1.1.7 yang pertama kali dilaporkan dari Inggris, B.1.351 yang dilaporkan dari Afrika Selatan dan P1 yang dilaporkan dari Brazil. Asal pertama dilaporkannya mutasi-mutasi ini se akan-akan “jauh” dari negara kita, tapi kita tahu bahwa kini penyebaran penyakit dan juga penyebaran varian baru berjalan cepat dan meluas, juga sampai ke negara-negara tetangga dekat kita.

B.1.1.7
Kita ketahui bahwa Kementerian Kesehatan kita menyampaikan ke publik pada 2 Maret 2021 bahwa di Indonesia sudah ditemukan mutasi ini, dan kini sudah ada beberapa kota di negara kita. Negara tetangga kita Singapura bahkan sudah melaporkan kasus pertama varian baru corona B.1.1.7 mereka pada 23 Desember 2020. Pasien itu tiba di Singapura pada 6 Desember 2020 dan melakukan karantina selama dua minggu sesuai protokol. Sampai akhir 29 Januari 2021 Singapura telah mencatat 25 kasus COVID-19 dengan mutasi B.1.1.7 ini.

Filipina juga pertama kali melaporkan adanya mutasi virus corona B.1.1.7 pada Januari 2021. Sampai akhir Februari 2021 jumlah kasusnya sudah lebih dari 60 orang. Berdasarkan laporan dari Departemen Kesehatan Filipina, 13 kasus terbaru berasal dari orang Filipina yang kembali dari luar negeri di antara 3-27 Januari. Vietnam juga sudah melaporkan adanya kasus mutasi virus corona B.1.1.7 sejak 28 Januari 2021. Negara tetangga terdekat kita yang lain yaitu Malaysia dan Brunei Darussalam juga sudah pula melaporkan adanya varian baru virus corona B.1.1.7 ini sejak Januari 2021.

B.1.351 dan P 1
Selain B.1.1.7 maka dua jenis varian yang tergolong VOC juga sudah dilaporkan oleh negara-negara tetangga kita. Pada 13 Maret 2021 Kementerian Kesehatan Filipina mengumumkan temuan kasus mutasi virus corona P1 dari warga yang baru pulang dari Brasil.

Sementara itu, pemerintah Thailand mendeteksi seorang pendatang yang terinfeksi virus corona jenis mutasi Afrika Selatan pada 15 Februari 2021. Petugas Kesehatan Thailand mendeteksi varian yang pertama kali dilaporkan dari Afrika Selatan pada seorang lelaki pendatang asal salah satu negara Afrika.

Pada 1 April 2021 ini pejabat kesehatan Malaysia melaporkan bahwa mereka sudah menemukan 9 kasus dengan varian B.1.351 yang pertama kali ditemukan di Brazil. Seperti diketahui bahwa varian ini dilaporkan mempengaruhi efikasi vaksin dan juga meningkatkan penularan. Malaysia menemukannya antara lain pada petugas yang bekerja di perusahaan yang berhubungan dengan bandara Kuala Lumpur International Airport.

Mutasi lain
Malaysia pada 5 Maret 2021 melaporkan telah mendeteksi dua kasus mutasi baru virus corona SARS-CoV-2 yang dikenal sebagai B.1.525. Varian itu ditemukan pada dua orang yang telah melakukan perjalanan dari Timur Tengah. Varian B.1.525 pertama kali dilaporkan oleh Inggris pada 15 Desember 2020. Lima hari kemudian, Nigeria juga mengaku menemukan varian itu. Sekarang sudah lebih dari 20 negara yang melaporkan varian ini. Salah satu kepustakaan menyebutkan bahwa varian B.1.525 memiliki mutasi pada lonjakan protein yang disebut E484K. Varian yang dilaporkan di negara jiran ini disebut lebih menular, dapat melawan antibodi dan mungkin mempengaruhi efikasi vaksin, walaupun hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Pada 25 Maret 2021 media melaporkan bahwa Australia mendeteksi varian baru COVID-19 pada warganya yang pulang dari Papua New Guinea (PNG). Varian ini adalah B.1.466.2 yang merupakan nama baru dari istilah B.1 yang tadinya digunakan di PNG. Judul berita media tentang hal ini cukup membuat keprihatinan, “Grave concern over new ultra-infection Covid variant found in PNG”.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Seperti diketahui saat ini kasus COVID-19 masih tinggi. Untuk itu tetap patuhi protokol kesehatan dan selalu lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak, serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun
#satgascovid19