Kolom Prof Tjandra: Perkembangan Pandemi COVID-19 dan Tuberkulosis

·Bacaan 2 menit

VIVA – COVID-19 dengan lebih dari 3 juta kematian “menggantikan” tuberkulosis sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu penyakit infeksi dalam satu tahun.

Sudah bertahun-tahun sebelumnya penyebab kematian tertinggi akibat satu penyakit menular (“cause of death by a single infectious disease”) di dunia adalah tuberkulosis, dan kini digantikan oleh COVID-19 yang kita belum tahu kapan akan berakhir.

Di sisi lain, pada masa awal pandemi COVID-19 berbagai pakar dan organisasi dunia sudah memperkirakan bahwa pandemi akan memperburuk situasi epidemiologi tuberkulosis.

Selain dampak langsung akibat prioritas berbagai negara kini adalah penanganan COVID-19 yang juga membuat program pengendalian tuberkulosis jadi terganggu, juga akan ada “collateral damage” yang masih akan berdampak beberapa tahun ke depan.

Kita juga mengetahui bahwa berbagai komorbid pada tuberkulosis juga berpengaruh buruk pada perjalanan COVID-19, seperti diabetes mellitus dan mungkin “human immunodeficiency virus (HIV)”. WHO menyampaikan bahwa target penanggulangan TB dunia tahun 2020 berupa penurunan insidens 20% antara 2015 dan 2020 nampaknya tidaklah tercapai.

Kini diperkirakan setidaknya seperempat (25%) penduduk dunia sudah pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, kuman penyebab tuberkulosis. “World Health Organization (WHO)” menyampaikan bahwa sebenarnya puncak insidens tuberkulosis di dunia terjadi pada sekitar 2003 dan lalu menurun perlahan sampai 2019, tahun dimana masih ada 1,6 juta orang yang meninggal akibat tuberkulosis.

Datangnya pandemi COVID-19 mengubah kecenderungan (“trend”) penurunan ini, dan diperkirakan deteksi kasus TB turun sampai 50% di banyak negara di dunia. Diperkirakan bahwa dampak tidak langsung (“indirect impact”) pandemi COVID-19 menyebabkan penambahan 400.000 kematian akibat TB pada 2020 yang lalu. Publikasi awal 2021 berjudul Tuberculosis and COVID-19 interaction: A review of biological, clinical and public health effects membahas cukup banyak interaksi dua penyakit ini.

Dari kacamata mekanisme imunologi memang terjadi gangguan akibat kedua hal ini yang disebut Shared dysregulation of immune responses, yang akan memengaruhi perjalanan penyakit COVID-19 berat dan juga perburukan tuberkulosis. Sejauh ini bukti yang ada dari aspek klinik menunjukkan COVID-19 dapat saja terjadi pada berbagai fase TB, jadi tidak ada pola khusus.

Di sisi lain masih diperlukan bukti ilmiah lanjutan untuk mengetahui apakah COVID-19 dapat memperburuk atau membuat TB jadi kambuh. Juga dibahas tentang kemungkinan risiko skoring baik bagi COVID-19 maupun bagi TB.

Dapat disampaikan di sini bahwa sebelum adanya pandemi COVID-19 maka tantangan program pengendalian TB adalah antara lain keterbatasan akses ke pelayanan kesehatan, infeksi HIV, resistensi M. tuberculosis dan aspek sosio ekonomi.

Khusus tentang resitensi ini maka pada bulan Juni 2021 Thailand sudah berhasil keluar dari daftar negara dengan beban tinggi MDR/RR-TB (“high MDR/RR-TB burden countries”), sementara Indonesia masih masuk dalam semua daftar, yaitu “global lists of high-burden countries for TB”, “HIV-associated TB” dan juga “drug-resistant TB”. Tentu akan amat baik kalau Indonesia juga dapat mengikuti jejak Thailand dan setidaknya keluar dari satu diantara tiga daftar TB terbanyak di dunia ini.

Dapat disampaikan bahwa delapan negara di dunia menyumbang dua pertiga kasus di dunia, yaitu India (26%), Indonesia (9%), China (8%), Filipina (6%), Pakistan (6%), Nigeria (4%), Bangladesh (4%) dan Afrika Selatan (4%).

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel