Kolom Prof Tjandra: Tiga Hal Mutasi Baru COVID-19 di Indonesia

·Bacaan 3 menit

VIVA – Beberapa hari yang lalu pada pertengahan Mei 2021 ini Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa ada 26 mutasi virus COVID-19 baru yang telah masuk ke Indonesia. Sebanyak 26 mutasi virus itu terdiri atas 14 kasus varian dari Inggris B.1.1.7, dua kasus varian dari Afrika Selatan B.1.351, dan 10 kasus B.1.617 dari India.

Secara umum kita ketahui bahwa setiap ada varian atau mutasi baru COVID-19 maka para pakar selalu menganalisa dampaknya terhadap empat hal, yaitu pada kemampuan diagnosis dengan PCR, kemungkinan peningkatan penularannya, kemungkinan penyakit menjadi makin berat serta apakah ada dampaknya terhadap efikasi vaksin. Karena itu maka setiap ada laporan varian atau mutasi baru maka akan mendapat perhatian penting. Untuk kita di Indonesia maka tentu sudah banyak yang dilakukan untuk mengendalikan kemungkinan penyebaran varian dan mutasi baru ini. Dalam hal ini ada tiga hal yang ingin dibahas.

Pertama, laporan 26 mutasi kasus mutasi baru ini tentu berdasar temuan yang ada dari pemeriksaan “whole genome sequencing” yang sudah dilakukan sejauh ini. Kalau jumlah yang diperiksa makin banyak lagi, Inggris misalnya sudah memeriksa beberapa ratus ribu sampel, maka bukan tidak mungkin akan ditemukan lagi kasus- kasus yang lain.

Hal ke dua, sebagian dari 26 kasus mutasi baru di negara kita adalah pekerja migran yang pulang ke Indonesia dengan pesawat terbang. Sudah menjadi semacam “best practice” kalau ditemui seorang kasus penyakit menular seperti COVID-19 ini di pesawat maka semua yang duduk dua baris di depan dan dua baris di belakangnya juga turut diperiksa. Jadi, kalau kasus duduk di kursi 18 A misalnya maka semua orang yang duduk di kursi di baris 16, 17, 19 dan 20 seyogyanya diperiksa kesehatannya pula, selain yang duduk di kursi 18 B,C,D dan seterusnya sampai di ujung jendela sisi lain di baris itu. Kita tahu kalau seseorang masuk ke negara kita maka harus mengisi “health alert card/information” atau kartu/informasi kewaspadaan kesehatan, yang antara lain harus menulis nomor kursinya di pesawat.

Dengan berbekal informasi ini maka dapat diketahui siapa-siapa saja yang duduk di sekitar kasus ini dan sekarang dapat ditelusuri untuk pemeriksaan selanjutnya. Kita ingat kasus pemain All England kita pada Maret 2021 yang di pesawatnya ada kasus COVID-19 dan akhirnya mereka terpaksa harus dikarantina walau semua sehat2 saja dan sudah siap untuk bertanding. Hal ke tiga, tentu akan baik kalau dilakukan analisa genomik lebih mendalam sehingga informasinya dapat lebih jelas lagi. Kita tahu bahwa varian baru B.1.617 misalnya terbagi 3 sub tipe lagi, yaitu B.1.617.1, B.1.617.2 dan B.1.617.3, yang masing-masing berbeda perangainya dan kemungkinan bahayanya bagi manusia. Karena itu akan baik kalau kita sudah tahu sub tipe mana dari B.1.617 yang sudah ada di negara kita -dari 26 orang yang disampaikan di atas- sehingga upaya penanggulangannya dapat lebih terarah dengan baik.

Dari kacamata WHO maka ditemukannya sublineages B.1.617.1 dan B.1.617.2 utamanya digunakan untuk menentukan B.1.617 sebagai VOC (“variant of concern”) global. Di Inggris, jumlah B.1.617.2 meningkat dua kali lipat, mulai dari 1.313 pada Kamis 13 Mei menjadi 2.323 kasus pada[]Senin 17 Mei 2021. Para ahli sekarang sedang terus mengamati bagaimana perangai B.1.617.3 dalam beberapa waktu mendatang.

Nampaknya masih akan ada berbagai aspek tentang COVID-19 yang perlu kita waspadai dan antisipasi. Perkembangan ilmu tentu perlu jadi acuan utama, dan kesadaran kita semua untuk tetap menjaga protokol kesehatan memang menjadi kunci utama sekarang ini.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO Asia Tenggara serta Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel