Kolom Prof Tjandra Yoga Aditama: Mutasi COVID-19 di Inggris

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Seperti sudah diberitakan bahwa dalam beberapa hari ini pemerintah Inggris melaporkan adanya mutasi virus COVID-19 di negara mereka. Laporan mutasi ini kurang lebih bersamaan waktunya dengan Inggris mulai memvaksinasi warganya, dan hampir sejalan juga waktunya dengan peningkatan kasus di Inggris sehingga sejak November harus melakukan “second lockdown” yang cukup ketat.

Jurnal Ilmiah BMJ pada 16 Desember 2020 menyampaikan informasi cukup rinci tentang mutasi ini sehingga diharapkan dapat memberi penjelasan tentang apa yang sudah kita ketahui sampai saat ini. Kalau beberapa bulan yang lalu banyak dibahas tentang mutasi virus COVID-19 dengan nama D614G yang bahkan juga dilaporkan terjadi di Indonesia, maka mutasi terbaru di Inggris ini namanya adalah VUI-202012/01. Ini bukan penamaan kode genetik.

“VUI” adalah kepanjangan dari “Variant Under Investigation”, “202012” karena ditemukannya pada bulan 12 tahun 2020 dan “/01” karena ini laporan pertama dari jenis mutasi ini. Kejadian ini ditemukan karena pemerintah Inggris mempunyai konsorsium “Covid-19 Genomics UK (COG-UK)”, yang secara berkala memang melakukan sekuensing genetik virus secara random di negara itu. Sejak dibentuk pada April 2020 maka Konsorsium ini sudah melakukan sekuensing pada 140 000 genom virus dari orang yang terinfeksi COVID-19, suatu kegiatan surveilans genetika yang terstruktur amat baik dan perlu juga dilakukan di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Sampai 13 Desember 2020 Konsorsium ini sudah menemukan mutasi pada 1108 orang kasus COVID-19. Jumlah sebenarnya tentu mungkin saja lebih banyak lagi karena surveilans ini dilakukan secara random/acak, bukan seluruh penduduk. Kasus-kasus ini utamanya ditemukan di Inggris bagian Tenggara, walaupun ada juga laporan dalam jumlah kecil dari Inggris bagian lain, termasuk Wales dan Skotklandia. Juga disebutkan bahwa nampaknya memang proses mutasi terjadi di Inggris, bukan datang dari negara lain. Seperti apa prosesnya? Simak di halaman berikut.

Mutasi ini ditandai dengan 17 jenis perubahan atau mutasi. Salah satu yang paling penting adalah mutasi N501Y pada “antenna” (spike) protein, dan antena inilah yang digunakan virus untuk berikatan dengan reseptor ACE2 di tubuh manusia. Jadi, secara teoritis, kalau ada mutasi di antena ini maka mungkin saja virus menjadi lebih mudah menular dan jadi mungkin mempermudah penularan antar manusia. Tetapi sekali lagi, ini teoritisnya, bagaimana kejadian sebenarnya masih dalam penelitian selanjutnya.

Kita tahu bahwa pihak World Health Organization (WHO) juga menyatakan bahwa mereka mengamati perkembangan mutasi di Inggris ini, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda yang benar-benar mengkhawatirkan. Kita tahu bahwa SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah virus RNA yang memang secara alamiah akan bermutasi dari waktu ke waktu dan belum tentu membuat penyakit jadi lebih sulit dikendalikan, jadi yang penting adalah selalu mengawasi kemungkinan perubahan yang ada virus. Juga ada pertanyaan apakah mutasi VUI-202012/01 ini berhubungan dengan peningkatan kasus di Inggris Tenggara beberapa waktu ini.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menyatakan pada 14 Desember bahwa itu mungkin saja berhubungan, tepatnya kata yang dia gunakan adalah “may be associated”, yang bisa juga dibaca bahwa belum jelas bahwa mutasi ini menyebabkan peningkatan kasus. Pertanyaan berikutnya adalah apakah mutasi ini akan mengganggu kerja vaksin COVID-19 yang sedang disuntikkan di Inggris.

Memang mutasi ini terjadi di antena protein yang biasanya jadi target kerja vaksin. Tetapi, vaksin akan berproses membentuk antibodi melalui berbagai bagian dari protein, sehingga kalau hanya ada mutasi pada satu bagian protein maka diharapkan tidak akan berpengaruh pada efektifitas vaksin. Berikutnya, setahun bersama COVID-19, seperti apa perkembangannya?

Kita sudah setahun hidup bersama COVID-19, dan perkembangan masih terus terjadi dari waktu ke waktu. Kegiatan surveilans dalam bentuk pengamatan terus menerus dan melakukan tindakan sesuai hasil pengamatan merupakan salah satu kunci pokok yang harus dilakukan. Surveilans ini perlu dilakukan pada manusia, pada virus dan genetiknya dan mungkin juga pada hubungannya dengan lingkungan di sekitar kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI, Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Saat ini kasus COVID-19 masih tinggi, untuk itu tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan selalu 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun
#satgascovid19