Kolom Prof Tjandra Yoga Aditama: 'One Health' dan COVID-19

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – “One Health” adalah pendekatan yang menyadari bahwa kesehatan manusia sangat berhubungan langsung dengan kesehatan hewan dan lingkungan dimana kita hidup. Kita tahu penyakit pada manusia yang ada hubungannya dengan hewan di sebut zoonosis.

Data menyebutkan bahwa sekitar 60 persen penyakit menular di dunia adalah zoonosis. Setidaknya 75 persen penyakit infeksi baru (emerging infectious disease) juga berhubungan dengan hewan, serta dari lima penyakit baru yang muncul maka tiga di antaranya adalah berhubungan dengan hewan pula.

Data lain menyebutkan ada sekitar 150 penyakit zoonosis di dunia, dan 13 penyakit zoonosis menyebabkan 2,2 juta kematian per tahun di dunia. Bahkan, diperkirakan masih ada sekitar 1,7 juta virus pada hewan yang sampai sekarang belum ditemukan, yang mungkin punya kemampuan menginfeksi manusia.

Sebenarnya konsep “One Health” bukanlah hal baru, tetapi menjadi makin penting sekarang ini karena makin dekatnya interaksi antara manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. Salah satu contoh konkret adalah COVID-19.

Penyakit ini diduga bermula dari suatu pasar makanan laut di kota Wuhan, China, yang juga menjual binatang-binatang lain termasuk yang eksotik. Penelitian selanjutnya mendapatkan bahwa profil genetik virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 itu amat mirip dengan korona virus yang ada di kelelawar, yang diduga merupakan pejamu alamiah (natural host) penyakit ini. Lalu diduga ada proses spillover, bermutasi di kelelawar dan lalu pindah ke pejamu perantara di hewan (intermediate animal host) -diduga adalah trenggiling- dan lalu bermutasi lagi dan akhirnya menyerang manusia. Teori ini memang masih terus dikaji, tetapi setidaknya memang menyatakan bahwa COVID-19 adalah penyakit zoonotik.

Pada perkembangan selanjutnya, tercatat ada beberapa binatang peliharaan, seperti anjing dan kucing, yang juga terinfeksi COVID-19, walau jumlahnya sedikit sekali. Binatang ini biasanya terinfeksi sesudah ada kontak dengan pasien yang sakit COVID-19. Juga pernah dilaporkan ada singa yang terinfeksi virus ini, dan juga mengalami gangguan pernapasan seperti halnya manusia.

Yang lebih menarik perhatian adalah penularan pada Cerpelai pada berbagai peternakan di Denmark, Belanda, Spanyol dan Amerika Serikat. Perdana Menteri Denmark sampai akhirnya memutuskan memusnahkan jutaan Cerpelai di negara itu, untuk memutus rantai penularannya, khususnya setelah pemilik dan peternak juga ternyata positif COVID-19.

Yang juga jadi perhatian penting adalah timbulnya mutasi di peternakan Cerpelai ini. Mutasi yang disebut sebagai klaster ke lima ini bahkan pernah dikawatirkan akan kemungkinan mempengaruhi efektifitas vaksin yang kini sedang amat ditunggu kita semua.

Penerapan konsep “One Health”
Untuk menanggulangi COVID-19 dan juga antisipasi terhadap kemungkinan pandemi yang akan datang maka pendekatan “One Health” merupakan salah satu kunci pentingnya. Ini untuk mengantisipasi interaksi kompleks antara manusia, hewan, tanaman dan lingkungan dan untuk melakukan reorientasi sistem kesehatan kita yang juga agar lebih siap untuk menghadapi pandemi yang akan datang. Pandemi akan dapat terus berkembang karena kehidupan manusia yang merusak lingkungan dan makin dekatnya kontak manusia dengan binatang liar. Salah satu contohnya adalah perusakan hutan yang tidak terkendali. Kerusakan lingkungan juga akan memaksa binatang jadi lebih mendekat ke lingkungan urban, dengan berbagai akibatnya.

Pendekatan “One Health” harus berupa kegiatan kolaboratif, multisektoral dan transdisiplin. Aktifitas harus dilakukan di tingkat global, nasional, regional dan lokal di tempat kita masing-masing. Kegiatan penting yang dapat dan harus dilakukan antara lain adalah surveilans terintegrasi antara kesehatan manusia dan hewan, memasukkan konsep eco-health dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan dan terus melakukan kerjasama partisipatif lintas sektor.

Dukungan aturan yang jelas tentu juga amat esensial. Ini semua merupakan modal penting baik masa kini maupun masa datang. Salah satu analisa ilmiah menunjukkan bahwa biaya mencegah pandemi yang akan datang -dengan melindungi kehidupan binatang liar dan pelestarian hutan- hanyalah sebesar 2 persen dari kerugian finansial akibat pandemi COVID-19 sekarang ini.

Marilah kita belajar dari pengalaman selama ini, marilah terus menerapkan dan mengaktifkan konsep “One Health” di negara kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI. Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Seperti diketahui, saat ini jumlah kasus COVID-19 masih tinggi. Untuk itu selalu patuhi protokol kesehatan dan jangan lupa lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#satgascovid19
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun
#ingatpesanibu