Kolom Prof Tjandra Yoga: Infeksi Ganda Tuberkulosis dan COVID-19

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA –Kita ketahui bahwa COVID-19 adalah masalah kesehatan utama sekarang ini. Di sisi lain, tuberkulosis (TB) juga merupakan masalah kesehatan penting di negara kita, dengan jumlah pasien yang cukup tinggi pula. Tentu yang perlu diantisapasi adalah bagaimana dampaknya kalau seseorang jadi terkena tuberkulosis dan juga COVID-19 sekaligus.

TB dan COVID-19 keduanya adalah penyakit menular yang menyerang paru. Kedua penyakit ini punya gejala yang hampir sama sepeti batuk, demam dan sesak napas. Di sisi lalin kita ketahui bahwa TB disebabkan oleh kuman sementara COVID-19 disebabkan virus, masa inkubasi TB jauh lebih lama dari COVID-19 dan di tubuh manusia TB juga cenderung berkembang tidaklah cepat seperti COVID-19.

Pada Januari 2021 ini salah satu dokumen World Health Organization (WHO) membahas beberapa aspek tentang infeksi ganda, tuberkulosis dan COVID-19. Untuk ini dilakukan analisa artikel ilmiah pada data PubMed database WHO COVID-19 pada periode 26 November sampai 9 Desember 2020, dan ditemukan ada 269 artikel di PubMed, 245 di database WHO COVID-19 dan 10 lagi dari rujukan lain. Kemudian dilakukan analisa dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kejadian COVID-19 pada pasien yang sedang menderita TB aktif, sementara kelompok ke dua pada bekas TB dan kelompok ke tiga pada TB latent.

Ada empat hasil dari penelitian WHO ini. Pertama, kesimpulannya secara umum menunjukkan bahwa tuberkulosis aktif dan bekas TB merupakan faktor risiko untuk COVID-19 menjadi lebih berat dan bahkan mungkin berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya kematian. Ke dua, tuberkulosis laten secara umum tidak berhubungan dengan memberatnya COVID-19. Ke tiga, anak-anak dengan TB dan COVID-19 nampaknya mengalami COVID-19 yang ringan dan ke empat adalah bahwa COVID-19 dapat mempersulit diagnosis infeksi TB laten. Rekomendasinya adalah agar mereka dengan TB aktif atau bekas TB harus ditangani dengan amat seksama agar hasil pengobatan menjadi lebih baik. Berikutnya publikasi ilmiah tentang patologi TB dan COVID-19

Publikasi ilmiah lain pada November 2020 yang judulnya cukup menarik, “Pathology of TB/COVID-19 Co-Infection: The phantom menace”, membahas aspek imunologi masalah ini. Hasilnya menunjukkan bahwa dari sudut imununologi maka infeksi ganda TB dan COVID-19 berpotensi membentuk badai masalah yang besar, yang disebut sebagai "perfect storm". Kerusakan imunomodulasi akibat kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB dan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 cenderung merangsang terjadinya respon peradangan (inflamasi) yang tidak seimbang.

Ada publikasi lain dari India di jurnal Monaldi Archives for Chest Disease pertengahan 2020 yang judulnya menggambarkan situasi yang ada, yaitu “COVID-19 and tuberculosis co-infection: a neglected paradigm”, karena memang bukan tidak mungkin kemungkinan infeksi ganda ini tidak mendapat perhatian cukup penting. Juga ada publikasi dari Iran di “International Journal of Mycobacteriology” Januari 2021 yang menyimpulkan bahwa walaupun pengalaman penanganan infeksi gandat TB dan COVID-19 masih terbatas tapi diperkirakan bahwa hasil pengobatan pasien yang sakit TB dan juga COVID-19 akan lebih buruk, apalagi kalau obat tuberkulosisnya malah jadi tertunda.

Karena tuberkulosis masalah kesehatan penting di Indonesia, dan kasus COVID-19 juga masih terus meningkat, maka kewaspadaan terhadap terjadinya infeksi ganda ke dua hal ini perlu diwaspadai. Dalam hal ini maka tentu pasien tuberkulosis amat perlu mendapat vaksinasi COVID-19, sesuai dengan kriteria dan aturan yang ada.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Hingga saat ini kasus COVID-19 masih tinggi. Tetap patuhi protokol kesehatan dan selalu lakukan 3M: Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan serta mencuci tangan pakai sabun.

#pakaimasker
#jagajarak
#ingatpesanibu
#satgascovid19
#cucitanganpakaisabun