Kolom Prof Tjandra Yoga: Mutasi dan Varian Virus COVID-19

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Di penghujung 2020 dunia banyak membicarakan tentang mutasi virus COVID-19 di Inggris. Cukup banyak negara, termasuk Indonesia, yang kemudian menutup penerbangan dari Inggris dan atau negara lain yang mungkin mengalami mutasi ini, dalam rangka mencegah penyebarannya.

Bermula dari Inggris, memang dilaporkan adanya klaster filogenik (atau disebut juga lineage) virus COVID-19 yang diberi nama B.1.1.7, yang kini juga sudah ditemukan di banyak negara lain termasuk negara tetangga kita Asia. Dalam hal ini terjadi 23 mutasi pada 5 gen virus, yang dibagi menjadi 17 non-synonymous dan enam mutasi synonymous.

Yang mutasi non-synonymous ternyata juga mengubah asam amino dimana delapan diantaranya terjadi di protein “spike” (tonjolan) yang memungkinan virus “menempel” ke sel di tubuh manusia.

Jadi, mutasi di “spike” (tonjolan) virus inilah yang kemudian menjadi perhatian utama para ahli sekarang ini. Dua mutasi yang kini sedang diteliti lebih mendalam adalah N501Y dan P681H. Sejauh ini sudah diketahui bahwa mutasi ini memang membuat virus jadi lebih mudah menular, tetapi tidak ada bukti bahwa virus menjadi ganas dan juga sejauh ini nampaknya vaksin masih akan dapat bekerja.

Penelitian masih terus berjalan, termasuk dengan menggunakan virus hidup di laboratorium canggih dengan tingkat keamanan yang tinggi.

Mutasi atau Varian

Dalam berita tentang mutasi dari Inggris ini kita lihat dan dengar bahwa hal ini kadang-kadang disebut sebagai mutasi baru dan di kesempatan lain disebut varian baru. Apa sebenarnya beda ke dua istilah ini?

Virus SARS CoV2 penyebab penyakit COVID-19 disusun dari materi genetik RNA (ribonucleic acid) yang meliputi sekitar 30.000 unit, yang disebut nukleotida. Kalau ada perubahan dari bagian-bagian virus itu maka itulah yang disebut sebagai mutasi. Nah, lalu virus yang didalamnya terjadi mutasi itulah yang disebut sebagai varian baru.

Seperti diketahui bahwa virus ,baik COVID-19 maupun yang lain, memang akan mengalami perubahan dari waktu kewaktu. Sebagian besar perubahan ini tidak punya dampak berarti pada virusnya sendiri. Tetapi pada keadaan tertentu memang akan dilahirkan varian baru yang membuat sang virus lebih beradaptasi dan dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Ini akan tergantung juga pada dibagian materi genetik mana perubahan terjadi dan bagaimana perubahan ini membawa dampak pada bentuk dan properti dari virus itu. Ini dapat mengakibatkan perilaku virus sedikit banyak berubah, termasuk juga dampaknya pada manusia.

Evolusi virus

Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan bagian dari evolusi virus. Sejak awal COVID-19 mulai menjadi wabah maka WHO telah bekerja bersama jejaring pakar laboratorium global untuk mendukung analisa mendalam terhadap kemungkinan dinamika perubahan virus SARS-CoV-2 ini. Kelompok peneliti dari berbagai belahan dunia sudah melakukan sekuensing virus di laboratoriumnya masing-masing dan menyampaikan hasilnya pada database publik, termasuk GISAID yang memang mengumpulkan dan menganalisa data ribuan genom virus.

Indonesia juga sudah mengirimkan genom virus COVID-19 kita ke GISAID ini. Dengan data-data ini maka peneliti dapat mengusai perubahan dan perkembangan virus COVID-19 dan lalu melakukan menganalisa langkah penanggulangannya, termasuk proses pembuatan vaksin COVID-19 yang sudah digunakan di Eropa dan Amerika sekarang ini dan akan dimulai juga di negara kita. Berikut ulasan lebih jelasnya.

WHO dan jejaring laboratorium globalnya juga sudah membentuk “SARS-CoV-2 Evolution Working Group” untuk mengamati kemungkinan evolusi virus ini, mendeteksi mutasi secara dini dan menganalisa kemungkinan dampak mutasi pada test untuk mendiagnosis virus, bagaimana pengobatannya serta efektifitas vaksin yang ada.

Tehnologi maju di bidang virologi ini memang membuka berbagai kemungkin kita untuk memonitor kemungkinan perubahan dan evolusi virus SARS CoV 2. Di sisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan di bidang ini juga amat berperan dalam upaya dunia menangani pandemi COVID-19 dengan lebih baik, termasuk penyediaan vaksin yang aman dan efektif.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI. Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Saat ini jumlah kasus COVID-19 masih tinggi. Untuk itu tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan selalu 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Keurmunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#pakaimasker
#jagajarak
#satgascovid19
#cucitanganpakaimasker