Kolom Prof Tjandra Yoga: Mutasi COVID-19 & Surveilan Genomik

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 4 menit

VIVA – Laporan tentang mutasi virus COVID-19 di Inggris dan Afrika Selatan yang bermula pada Desember 2020 menimbulkan setidaknya tiga kemungkinan dampak. Pertama, pada penularan penyakit, ke dua masih dibicarakan kemungkinan dampaknya secara tidak langsung pada berat ringannya penyakit serta ke tiga adalah analisa bagaimana dampak mutasi ini (terutama yang dilaporkan di Afrika Selatan) terhadap vaksin COVID-19.

Mutasi ini juga sudah dilaporkan oleh beberapa negara tetangga kita. Vietnam dan Malaysia menyatakan bahwa peningkatan kasus di negara mereka nampaknya berhubungan dengan penularan akibat varian baru virus COVID-19 yang sudah bermutasi ini. Filipina dan Singapura juga sudah melaporkan sejumlah kasus COVID-19 dengan varian yang sudah bermutasi.

Mutasi dan varian baru dengan berbagai kemungkinan dampaknya kembali membuka mata dunia tentang perlunya dilakukan surveilans genomik dengan baik. Dengan analisa genomik maka kita dapat mengetahui apakah ada perubahan-perubahan pada virus COVID-19, dan dengan melakukannya dalam bentuk surveilans maka kita dapat tahu bagaimana pola mutasi itu terjadi di dalam suatu negara dan juga di dunia serta bagaimana pola kecenderungan (“trend”) nya dari waktu ke waktu.

Epidemiologi genomik memang menjadi kegiatan penting sekarang ini karena dapat menjadi salah satu dasar untuk membuat keputusan kesehatan masyarakat dengan cepat dan benar. Masa pandemi memaksa para pakar dan penentu kebijakan publik untuk menggalakkan surveilans genomik. Hanya saja harus diakui bahwa memang masih banyak negara yang belum melakukan surveilans genomik berskala besar di negaranya masing-masing.

Agar efektif maka kegiatan ini harus bersakala besar/nasional, terstruktur dan terstandardisasi dengan baik serta menjadi bagian tidak terpisahkan dari program pengendalian pandemi nasional. Salah satu contohnya, adalah akan baik dipertimbangkan kalau dalam setiap pencatatan data genomik dicatat juga informasi umum seperti umur, lokasi, berat ringannya penyakit dll. sehingga bila diperlukan kelak dapat dikorelasikan datanya untuk bahan pengambilan keputusan. Berikutnya jumlah genom yang cukup memadai untuk bisa melacak mutasi dan varian.

Yang juga amat penting adalah jumlah genom yang cukup memadai untuk dapat melacak mutasi dan varian yang mungkin timbul. Pada tahun yang lalu ada lebih dari 360.000 genom SARS-CoV-2 dari 140 negara yang di kirimkan ke GISAID, suatu organisasi nirlaba yang mengelola database genom virus. Hanya saja memang sebagian besar negara hanya memasukkan sedikit jumlah sekuens, kecuali Inggris dan Denmark yang merupakan penyumbang terbesar dari seluruh data yang dimasukkan ke GISAID.

Kegiatan surveilan intensif di Inggris dalam “COVID-19 Genomics Consortium (COG-UK)” inilah yang kemudian menemukan mutasi N501Y dan kini dikenal dengan B.1.1.7. Kegiatan COG-UK mulai diluncurkan di Inggris pada bulan Maret 2020 dengan anggaran sebesar 20 juta pondsterling yang bersumber dari Kementerian Kesehatan dan Pelayanan Sosial Inggris, UK Research and Innovation dan Wellcome Trust.

Tujuannya adalah melakukan sekuensing virus SARS-CoV-2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2) pada 230?000 pasien. Dengan informasi ini maka akan dilakukan pelacakan pola penyebaran virus SARS-CoV-2 di Inggris, mendeteksi adanya mutasi dan mengintegrasikannya dengan data kesehatan sehingga didapat informasi lengkap tentang bagaimana genomik virus berinteraksi dengan kejadian COVID-19 di negara itu.

Informasi yang diperoleh akan menjadi bahan penting pengambilan keputusan mengatasi pandemi, termasuk juga laporan berkala mingguan ke “UK Scientific Advisory Group for Emergencies (SAGE)” yang dibentuk pemerintah sebagai salah satu “think tank” penting. Informasi ini juga dapat digunakan sebagai bahan untuk penelusuran kemungkinan wabah penyakit -dan bahkan pandemi- di waktu yang akan datang.

Pada kenyataannya memang kegiatan surveilan dapat saja tidak berskala nasional, tapi dapat juga dilakukan di suatu daerah tertentu. Pada Juni 2020 misalnya, Afrika Selatan meluncurkan “Network for Genomic Surveillance” yang pada pelaksanaannya hanya dapat 50–100 seminggu.

Walaupun jumlahnya terbatas tapi hasilnya ternyata jadi cukup penting karena menemukan varian baru 501Y.V2 yang kini luas dibicarakan khususnya berhubungan dengan dampaknya pada efektifitas vaksin, selain peningkatan penularannya. Jelasnya, walaupun dalam skala kecil memang mungkin akan berguna dan untuk itu harus dilakukan secara terstruktur dan konsisten.

Secara umum WHO (World Health Organization) memang menghimbau agar negara-negara dapat memperluas kegiatan surveila genomiknya. Secara jelas disebutkan “We really need to expand this so we have better eyes on the changes in this virus that are happening, especially in areas where transmission is most intense”.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Saat ini kasus COVID-19 masih tinggi. Patuhi selalu protokol kesehatan dan tetap lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan Pakai Sabun

#pakaimasker
#satgascovid19
#jagajarak
#ingatpesanibu
#cucitaganpakaisabun