Kolonel Bangun Terkaget-kaget Lihat Calon Prajurit TNI Papua Ini

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ada cerita menarik yang diungkap oleh Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 174/Anim Ti Waninggap Merauke (ATW), Brigjen TNI Bangun Nawoko. Bangun pernah menjumpai seorang calon prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) berwajah Papua, tetapi memiliki nama Jawa.

Dalam pantauan VIVA Militer dari akun Youtube resmi TNI Angkatan Darat, pengalaman Bangun ini didapat saat masih berpangkat Kolonel TNI, dalam pelaksanaan kegatan Pantukhir (Penilaian Panitia Penentu Akhir) penerimaan calon Tamtama PK (Prajurit Karier) 2020 di Korem 174/ATW.

"Pada kegiatan Pantuhir penerimaan calon Tamtama PK Gelombang I tahun 2020 di Korem 174/Merauke ada yang menarik perhatian saya. Di mana ada salah satu calon ataupun peserta yang saya lihat di name tag itu namanya Jawa yaitu Dwi Cahyono. Namun demikian, yang bersangkutan ini adalah warga ataupun suku asli Papua," katanya.

Saat itu, Bangun melihat seorang calon prajurit atas nama Dwi Cahyono. Bangun cukup terheran-heran melihat calon prajurit ini. Sebab, pemuda ini mengaku asli Papua namun memiliki nama layaknya orang Jawa.

"Namanya orang Jawa. Kenapa namanya orang Jawa," tanya Bangun kepada Dwi.

"Siap, Bapak dan mama angkat orang Jawa," jawab Dwi.

"Papa mama angkat, orang tua asli?" tanya Bangun lagi.

"Siap, orang tua asli ibu sudah meninggal bapak masih ada," kata Dwi lagi.

Seketika Bangun pun bangga dengan cerita yang dikisahkan oleh Dwi sang calon prajurit. Bagaimana tidak, Dwi sudah berstatus yatim sejak berusia tiga hari. Sebab pada saat dilahirkan, sang ibu sudah meninggal dunia, Sebelum pada akhirnya diangkat anak oleh orang jawa yang sudah lama tinggal di Papua.

"Setelah yang saya lihat data-data yang bersangkutan yang membuat saya bangga, yang bersangkutan ini lulus murni. Kemuian setelah saya dalami, saya tanya, yang bersangkutan rupanya sudah yatim sejak lahir. Pada saat dilahirkan, ibunya meninggal dan saat berusia tiga hari, yang bersangkutan diangkat anak oleh orang Jawa yang sudah lama bermukim di papua," ujar Bangun melanjutkan.

Pengalaman yang didapatkan oleh Bangun membuatnya sadar, bahwa ia harus lebih banyak belajar tentang kebhinekaan. Bangun memuji orang tua angkat Dwi, Mardi Santoso dan Parinten, yang berpegang teguh pada rasa kemanusiaan, tanpa melihat suku, agama, ras dan golongan.

"Hal yang membuat saya tertarik dan mungkin membuat saya harus belajar tentang kebhinekaan, tentang keragaman, dari seorang petani yang mengangkat anak ini," katanya.