Kolonel Priyanto Masih Pikir-Pikir Ajukan Banding usai Divonis Penjara Seumur Hidup

Merdeka.com - Merdeka.com - Kolonel Priyanto mengaku masih pikir-pikir mengajukan banding setelah divonis penjara seumur hidup kasus pembunuhan berencana sejoli bernama Handi Saputra dan Salsabila.

Keputusan pikir-pikir ini sebagaimana hak dimiliki terdakwa selama tujuh hari untuk memutuskan apakah menerima atau mengajukan upaya hukum banding terhadap vonis dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Timur.

"Kami nyatakan pikir-pikir," kata Kolonel Priyanto ketika diberi kesempatan menanggapi vonis saat sidang di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Timur, Selasa (7/6).

Hal senada dikatakan Oditurat Militer Tinggi II Jakarta. Oditurat Militer akan memakai hak pikir-pikir selama tujuh hari memutuskan langkah hukum selanjutnya setelah vonis diberikan terhadap Kolonel Priyanto.

"Oditur juga mempunyai hak yang sama, silakan," kata Hakim Ketua, Brigjen Farida Faisal.

"Pikir-pikir yang mulia," kata Oditur Militer Tinggi II Jakarta, Kolonel Sus Wirdel Boy menanggapi hakim.

Kolonel Priyanto Divonis Penjara Seumur Hidup

Majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Timur menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap Kolonel Priyanto, terdakwa kasus pembunuhan berencana sejoli bernama Handi Saputra dan Salsabila di Nagreg, Jawa Barat. Vonis dijatuhkan majelis hakim sama dengan tuntutan Oditurat Militer lantaran Kolonel Priyanto diyakini terbukti bersalah sebagaimana dalam seluruh dakwaan.

"Memidana terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," kata Hakim Ketua Brigjen Farida saat membacakan putusan di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Timur, Selasa (7/6).

Selain pidana pokok hukuman penjara seumur hidup, majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pemecatan terhadap Kolonel Priyanto dari Instansi TNI AD.

"Dan pidana tambahan dipecat dari instansi militer," kata dia.

Vonis ini diberikan karena terdakwa dianggap majelis hakim terbukti memiliki motif pembunuhan berencana atas kematian Handi Saputra (17) dan Salsabila (14) yang dibuang di Sungai Serayu demi menghilangkan jejak kejahatan usai menabrak di Nagreg.

Pembuangan jasad Handi dan Salsabila turut dibantu dua anak buahnya yakni Kopda Andreas Dwi Atmoko dan Koptu Ahmad Sholeh ke Sungai Serayu, Banyumas, Jawa Tengah.

"Dengan demikian majelis hakim sepakat terhadap unsur kedua berencana telah terpenuhi," kata Farida.

Pertimbangan Hakim

Adapun dalam vonis yang dijatuhkan terhadap Kolonel Priyanto, majelis hakim turut mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan. Hal yang meringankan bahwa terdakwa menyesalkan perbuatannya.

"Terdakwa telah berdinas selama 28 tahun dan belum pernah dijatuhi hukuman pidana maupun hukuman disiplin," ujar hakim.

Sedangkan hal yang memberatkan terdakwa sebagai kapasitasnya selaku prajurit disiapkan negara untuk berperang, mempertahankan negara. Namun telah menyalahgunakan ilmunya untuk menghilangkan nyawa orang lain

Selain itu, terdakwa juga dianggap telah merusak citra TNI AD dan merusak merusak kesolidan TNI dalam rangka melindungi rakyat.

"Perbuatan terdakwa bertentangan dengan norma-norma di masyarakat, nilai pancasila, dan perbuatan terdakwa merusak ketertiban dan keamanan di masyarakat," tutu hakim.

Vonis ini berdasarkan, pasal primer 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana jo Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang Penyertaan Pidana, Subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana, jo Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Kemudian, kedua subsider pasal 328 KUHP tentang Penculikan juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP, subsider kedua Pasal 333 KUHP Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Lalu, ketiga tunggal, Pasal 181 KUHP tentang mengubur, menyembunyikan, membawa lari, atau menghilangkan mayat dengan maksud sembunyikan kematian jo Pasal 55 ayat 1 KUHP. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel