Kolumnis Ini Bela Macron Soal Ucapannya Tentang Islam

Aries Setiawan
·Bacaan 1 menit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut Islam sedang dalam krisis, memancing banyak komentar dari pemimpin negara-negara Muslim, mulai dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang memintanya memeriksakan diri ke psikiater, mantan perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, hingga Imran Khan dari Pakistan yang menulis khutbah dua halaman berisi imbauan pendidikan ulang Barat tentang Islam.

Namun ada yang berpendapat bahwa reaksi yang ditunjukkan para pemimpin terkemuka dari negara-negara Muslim kuat dan padat penduduk ini seolah membenarkan adanya "krisis".

"Jika puluhan juta Muslim di seluruh dunia merasa bahwa mereka adalah korban Islamofobia massal, itu adalah perasaan terkepung dan krisis," tulis Shekhar Gupta yang ditampilkan di The Print, Senin (2/11).

Menurut Gupta, seluruh agama bersifat politis, dan Islam adalah agama yang paling sering dipolitisasi. Ditambah lagi dikaitkannya Islam dengan kelompok-kelompok teroris seperti Alqaeda, ISIS hingga kelompok brutal lainnya.

Islam merupakan agama terbesar kedua di dunia, dengan hampir 200 juta penganut, selisih 20 persen dari Kristen.

Tetapi tidak seperti orang Kristen yang mayoritas tinggal di negara demokratis, hanya sedikit negara Muslim yang menganut sistem demokrasi.

"Penting untuk dicatat, sekitar 60 persen dari semua Muslim berada di Asia dan empat dari populasi terbesar mereka di dunia hidup di bawah derajat demokrasi yang berbeda, antara India, Indonesia, Bangladesh dan Pakistan," tulis Gupta.

Memperluas argumen ini lebih jauh, di negara-negara di mana Muslim memiliki mayoritas, sekularisme umumnya merupakan kata yang buruk. Tetapi di negara-negara demokratis di mana Muslim adalah minoritas, mereka terus menguji sistem sekuler, seperti Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Belgia, dan Jerman.

republika.co.id/berita/qj6472320/kolumnis-ini-bela-macron-soal-ucapan-islam-dalam-krisis-part1">Selanjutnya Klik disini