Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Terbukti Hasilkan Antibodi yang Tinggi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Uji coba terus dilakukan untuk mengetahui efek dua penyuntikkan vaksin COVID-19 merek berbeda. Hasil studi yang dilakukan peneliti Inggris menunjukkan hasil proteksi yang baik pada pemberian dua dosis jenis vaksin berbeda.

The Com-Cov Inggris melihat efikasi dari pemberian dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan Pfizer. Lalu, membandingkan dengan pemberian masing-masing vaksin tersebut dua dosis seperti yang selama ini dilakukan. Penelitian ini melibatkan 850 sukarelawan berusia 50 tahun ke atas.

Setelah vaksinasi, tim peneliti menemukan orang yang menggunakan AstraZeneca diikuti suntikan Pfizer empat minggu kemudian menunjukkan produksi antibodi sembilan kali lebih tinggi dibanding dua kali suntikan AstraZeneca mengutip Sky News.

Hasil yang sedikit berbeda pada orang yang mendapat suntikan pertama Pfizer diikuti AstraZeneca. Antibodi yang dihasilkan lima kali lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan dua kali suntikan AstraZeneca.

Peneliti juga memberi catatan bahwa dua dosis pemberian vaksin Pfizer memang memproduksi antibodi lebih tinggi. Namun, respons sel T lebih tinggi pada orang yang menerima kombinasi vaksin.

Sel T adalah salah satu jenis sel darah putih yang mampu mengidentifikasi patogen tertentu. Di antara sel T ada sel T memori yang bisa bertahan di dalam tubuh. Ada kemungkinan bila sel T bisa bertahan seumur hidup di tubuh sehingga kebal terhadap infeksi dalam jangka waktu lama.

"Kita sudah tahu bahwa vaksin COVID-19 tersebut efektif mencegah penyakit parah dan mencegah masuk rumah sakit, termasuk melawan varian Delta ketika diberika dengan jeda 8-12 minggu," kata peneliti utama Profesor Matthew Snape mengutip dari laman Oxford University.

"Kombinasi ini bisa menciptakan dorongan ekstra untuk sistem imunitas tubuh," kata Snape lagi.

Mungkin Bisa Dipakai di Negara dengan Stok Vaksin Terbatas

Vaksinator menyiapkan vaksin AstraZeneca untuk disuntikkan kepada warga saat peresmian Sentra Vaksinasi COVID-19 di RS St. Carolus, Jakarta, Senin (14/6/2021). Sentra vaksinasi ini akan beroperasi selama tiga bulan hingga tanggal 26 September 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Vaksinator menyiapkan vaksin AstraZeneca untuk disuntikkan kepada warga saat peresmian Sentra Vaksinasi COVID-19 di RS St. Carolus, Jakarta, Senin (14/6/2021). Sentra vaksinasi ini akan beroperasi selama tiga bulan hingga tanggal 26 September 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Melihat hasil ini Wakil Kepala Tenaga Kesehatan Inggris, Profesor Jonathan Van Tam mengatakan tidak akan mengubah jadwal vaksinasi yang sudah ada. Namun, hasil studi ini mungkin bisa dipakai suatu saat nanti dalam kondisi tertentu.

"Pencampuran dua vaksin memberikan fleksibilitas yang lebih besar untuk program booster, Sementara itu, hal ini juga bisa mendukung bagi negara yang kesulitan pasokan vaksin COVID-19," katanya mengutip BBC.

Spanyol dan Jerman sudah menawarkan kombinasi vaksin COVID-19 untuk warganya. Yakni perpaduan vaksin Pfizer atau Moderna pada suntikan kedua, dan dosis pertama adalah AstraZeneca. Tawaran ini diberikan setelah muncul isu pembekuan darah usai divaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu.

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Juga Video Berikut

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel