Komentar Pedas Pelatih Persib Bisa Berujung Sanksi dari PSSI

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 2 menit

VIVA – Komentar pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts bisa saja berujung sanksi. Dia melontarkan kata-kata pedas dengan menyebut pengurus PSSI saat ini adalah orang-orang rakus dan cuma memikirkan diri sendiri.

Robert mengatakan itu karena kesal dengan keputusan PSSI yang memunda lanjutan Liga 1 musim ini hingga 2021 mendatang. Padahal timnya sudah bersiap sejak beberapa bulan lalu.

Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Erwin TPL Tobing mengatakan Komdis PSSI akan mempelajari komentar Robert tesebut. Menurut dia, tidak layak pelatih berbicara seperti itu.

"Komentar Robert Rene Albert akan kami bawa ke Komdis PSSI untuk dibicarakan. Dia harusnya sebagai sosok pelatih sebuah tim besar tidak berkomentar seperti itu. Ada etika yg harus diperhatikan, dan kami sayangkan statement tersebut," kata Erwin.

"Apa yang dimaksud Robert dengan rakus dan mementingkan diri sendiri? Masa kepengurusan PSSI kapan yang dia maksud? Kepengurusan PSSI sekarang kan baru setahun terbentuk dan langsung menghadapi pandemi COVID-19, sehingga menghentikan sementara aktivitas persepakbolaan," imbuhnya.

Erwin justru mempertanyakan balik apa yang sudah disumbangkan Robert untuk Persib. Bukannya fokus membentuk tim, malah menyerang PSSI dengan komentar sengit seperti itu.

"Saya mau tanya bagaimana sih performance tim Persib di tangan dia. Apa yang sudah di buatnya? Coba dia fokus dan majukan dulu ke Persib. Belum paham tentang PSSI yang sekarang sudah berkomentar, itu pun ngambang, tanpa data dan bukti," tutur Erwin.

Ketua Komite Etik PSSI, Bambang Usadi juga turut buka suara. Dia menganggap Robert sudah terlalu kelewatan berkomentar dan melebihi kapasitasnya sebagai pelatih Persib.

"Komentar tersebut akan kami bawa ke Komite Disiplin Etik. Nanti kami minta PSSI melalui Kesekjenan untuk menyampaikan surat klarifikasi komentar Robert Rene Albert," kata Bambang Usadi.

Menurutnya Robert harus menunjukkan kapasitas serta mentalitas yang menjunjung tinggi sportivitas sebagai seorang profesional. Selain itu, harus berpikir ilmiah berbasis dengan fakta dan realita.

"Olahraga, terutama dunia sepakbola profesional telah mengajarkan kita bagaimana bersikap bersadarkan bukti konkret. Sebagaimana permainan sepakbola yang menerapkan sanksi atau bukti konkret, bukan mengada-ngada, rumor dan desas-desus," tuturnya.