Komentar Trump, RUU Uighur pukul prospek kesepakatan dagang AS-China

Washington (Reuters) - Komentar Presiden AS Donald Trump bahwa kesepakatan dagang dengan China mungkin harus menunggu sampai akhir 2020 mencuatkan keraguan baru mengenai kapan sengketa itu mungkin berakhir, sementara rancangan undang-undang Senat AS yang ditujukan ke kamp buat orang Muslim di Xinjiang menyulut kemarahan Beijing.

"Dalam beberapa cara, saya menyukai gagasan mengenai menunggu sampai setelah pemilihan umum buat kesepakatan China. Tapi mereka ingin mencapai kesepakatan sekarang, dan kami akan melihat apakah kesepakatan akan dicapai atau tidak," kata Trump kepada wartawan di London pada Selasa (3/12), sehingga menyulut kemerosotan tajam di pasar bursa dan hilangnya obligasi pemerintah.

Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat AS atas RUU yang mengharuskan pemerintah Trump agar memperkuat reaksinya terhadap penindasan China atas orang Muslim Uighur di Wilayah Xinjiang di bagian barat negeri tersebut dapat menciptakan kemunduran lain pada perundingan perdagangan.

RUU Uighur itu, yang disahkan 407-1 di Parlemen --yang dikuasai Demokrat, mengharuskan presiden AS mengutuk pelecehan terhadap orang Muslim dan menyerukan penutupan kamp penahan massal di Xinjiang. RUU tersebut menyeru Trump agar menjatuhkan sanksi buat pertama kali atas seorang anggota politbiro tangguh di China, Sekretaris Partai Komunis Xinjiang Chen Quanguo.

Beijing menyebut RUU itu serangan jahat terhadap China, menuntut Amerika Serikat agar mencegahnya jadi peraturan dan mengatakan China akan membela kepentingannya sebagaimana diperlukan.

Satu orang yang mengetahui pendirian pemerintah China dalam perundingan dagang mengatakan kepada Reuters tahap pertama kesepakatan dagang dapat terancam jika RUU Parlemen mengenai Uighur menjadi hukum.

Para perunding buat kedua negara telah terus mengerjakan apa yang dinamakan tahap pertama kesepakatan dagang, tapi beberapa sumber yang mengetahui mengenai pembicaraan itu mengatakan Beijing dan Washington masih berkutat mengenai berbagai perincian termasuk apakah taris AS yang sedang berlaku atas barang-barang China akan dihilangkan dan berapa banyak dalam tambahan produk pertanian AS akan dibeli oleh China.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan kepada CNBC pada Selasa bahwa perundingan dagang tingkat-staf dengan China berlanjut tapi tidak ada pembicaraan dagang tingkat-tinggi yang dijadwalkan. Tarif yang direncanakan mengenai sisa impor China akan berlaku pada 15 Desember, jika tak ada kemajuan mencolok dalam pembicaraan atau kesepakatan, katanya.

RUU Uighur masih harus disetujui oleh Senat, yang dikuasai Republik sebelum dikirim kepada Trump. Gedung Putih belum mengatakan apakah Trump akan menandatangani atau memveto RUU itu, yang berisi ketentuan yang memungkinkan presiden akan meringankan sanksi jika ia memutuskan itu menjadi kepentingan nasional.

Reaksi Kuat

Dilxat Raxit, Juru Bicara Kongres Uighur Dunia, mengatakan di dalam satu pernyataan RUU Parlemen tersebut adalah tindakan penting yang menentang "dorongan China yang berlanjut mengenai penghukuman ekstrem" dan organisasi itu sangat mengharapkan Trump menandatanganinya jadi peraturan.

Banyak pengulas mengatakan reaksi China terhadap RUU Uighur dapat lebih kuat daripada reaksinya terhadap peraturan AS yang mendukung pemrotes Hong Kong. Beijing pada Senin (2/12) mengatakan China melarang kapal militer AS mengunjungi pulau itu dan menjatuhkan sanksi atas beberapa organisasi non-pemerintah yang berpusat di AS.

Kementerian Luar Negeri China tidak menyebutkan secara khusus pada Rabu (4/12) apa langkah pembalasan yang sedang dipertimbangkan. Global Times, satu tabloid yang berpengaruh yang diterbitkan oleh harian resmi Partai Komunis, yang berkuasa di China, mencuit pada Selasa (3/12) bahwa Beijing akan segera menyiarkan apa yang dinamakan daftar kesatuan yang tak dapat diandalkan dan menjatuhkan sanksi atas mereka yang membahayakan kepentingan China.

Surat kabar tersebut menyatakan China akan mempercepat proses buat daftar itu sebab RUU Parlemen AS "membahayakan kepentingan perusahaan China" dan kesatuan "terkait" AS akan termasuk di antara sasaran.

Beberapa sumber pemerintah China mengatakan kepada Reuters pada Oktober bahwa penyiaran daftar tersebut akan tergantung atas kondisi perundingan dagang; salah satu dari mereka mengatakan pada saat itu bahwa Beijing akan menahan penyiaran daftar tersebut sampai situasi dagang dengan Amerika Serikat "berada pada kondisi paling tegang".