Kominfo Takedown 11 Hoax COVID-19 di Media Sosial

Siti Ruqoyah, Dinia Adrianjara
·Bacaan 7 menit

VIVA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sepanjang pekan ini telah berhasil men-take down unggahan di media sosial yang terkait dengan berita palsu atau hoax seputar COVID-19.

Sepanjang tanggal 20-26 Februari 2021, diketahui sebanyak 11 isu hoaks dan disinformasi di media sosial telah ditakedown. Berikut ini 11 laporan isu hoaks seputar COVID-19, seperti dilaporkan Ditjen Aplikasi Informatika Kominfo RI:

1. Foto Pria dengan Wajah Bengkak Akibat Efek Samping Vaksin Moderna (Disinformasi)

Dalam unggahan yang beredar, foto dua orang pria dengan wajah dan mata bengkak atau Monsterisme, diklaim sebagai efek samping dari vaksin COVID-19 Moderna.

Faktanya, pembengkakan wajah dan mata dua orang pria itu sama sekali tidak terkait denagn vaksin. Dilansir dari dailymail.co.uk, kisah salah satu pria dalam foto pernah diangkat dalam artikel dengan narasi 'wajah ayah membengkak hingga tiga kali lipat setelah menderita penyakit misterius yang awalnya disebut masalah sinus.

Pria itu bernama Romulo Pilapil, seorang tukang kayu Filipina yang sebelumnya mengalami gejala awal mata gatal dan hidung meler, lalu terjadi pembengkakan setelah diberi obat.

Selain itu, foto pria kedua ditemukan dalam sebuah jurnal laporan kasus kesehatan berjudul 'Alcohol-related massive eyelid swelling: case report' yang terbit pada tahun 2007. Jurnal itu membahas tentang reaksi hipersensitivitas dermatologis yang mungkin muncul akibat minuman beralkohol.

2. Terbukti Sinovac Tidak Aman, Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea Makassar Meninggal karena Vaksin (Disinformasi)

Beredar informasi terkait meninggalnya Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea Makassar, Eha Soemantri. Dalam informasi beredar, yang bersangkutan disebut meninggal akibat disuntik vaksin. Salah satu unggahan Youtube bahkan mengklaim hal itu menjadi bukti bahwa vaksin Sinovac tidak aman.

Berdasarkan klarifikasinya, Komda KIPI Sulawesi Selatan pada 23 Februari 2021 menyebut Eha Soemantri meninggal setelah positif COVID-19 pada 8 Februari. Dalam kronologi disebutkan Eha mendapat suntikan vaksin tahap 1 pada 14 Januari, lalu melakukan perjalanan ke Mamuju 5 hari, sebelum mendapat vaksin tahap dua pada 28 Januari.

Kemudian, yang bersangkutan bergejala COVID-19 berupa demam dan sesak pada hari ke tiga setelah vaksinasi tahap dua yakni pada 31 Januari. Sebagaimana dijelaskan oleh Komda KIPI Sulawesi Selatan, bahwa kekebalan tubuh baru terbentuk maksimal setelah 28 hari sejak vaksin pertama diberikan.

Hal ini sekaligus membantah klaim yang menyebut bahwa Eha meninggal diakibatkan suntikan vaksin, melainkan akibat COVID-19 yang menyerang pada masa kekebalan tubuh belum terbentuk secara maksimal.

3. Ketua Satgas COVID-19 Sebut Hirup Uap Air Panas Bisa Membunuh Virus Corona (Hoaks)

Beredar pesan berantai di Whatsapp dengan narasi yang menyebut Ketua Satgas COVID-19 bernama Dwiyono, menjelaskan terkait pencegahan penularan COVID-19 dapat melalui metode menghirup uap air panas. Menurutnya, uap air panas dapat membunuh virus corona.

Faktanya, klaim itu tidak benar. Pesan berantai melalui Whatsapp yang mengatasnamakan Ketua Satgas COVID-19 Dwiyono adalah salah sebab ketua satgas saat ini bernama Doni Monardo. Sementara pernyataan dan penjelasan Doni Monardo tidak ada satu pun menyatakan bahwa uap air panas dapat menghilangkan virus corona.

4. Video Seorang Pria di Israel Meninggal Usai Vaksinasi (Disinformasi)

Beredar unggahan video yang menampilkan seorang pria di Israel jatuh terlentang di lantai. Pria dalam video itu diklaim langsung meninggal sesaat setelah menerima vaksin COVID-19.

Faktanya, klaim itu keliru. Penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, Clalit, mengklarifikasi bahwa pria itu memang jatuh pingsan namun bukan karena vaksin COVID-19. Istri dari pria itu menuturkan, kondisi sang suami lemah dan kurang baik menjadi faktor ia pingsan saat hendak divaksin. Ia ketakutan akan vaksin.

5. Video Pasien COVID-19 Dijemput Taksi ke Wisma Atlet

Beredar sebuah video di media sosial Facebook yang menampilkan seorang wanita. Ia mengaku baru tiba di Indonesia dari luar negeri dan dinyatakan positif Covid-19. Dalam video yang berdurasi 4 menit 38 detik tersebut wanita itu membuat sejumlah pengakuan dan mempersoalkan dirinya yang dijemput menggunakan taksi dari Bandara Soekarno - Hatta (Soetta) menuju Wisma Atlet.

Menanggapi video yang beredar tersebut, Komandan Batalyon Covid, Letkol Laut drg. Muhammad Arifin menjelaskan alasan taksi yang digunakan untuk menjemput wanita itu karena masalah keterbatasan armada (ambulans). Operasi taksi tersebut sesuai dengan protokol kesehatan.

Bahkan, sopir taksi menggunakan alat pelindung diri (APD). Terkait masalah tes swab pembanding yang diajukan oleh wanita tersebut, Arifin menyatakan bahwa prosedur dari Kementerian Kesehatan tidak memperbolehkan pasien untuk tes Covid-19 pembanding di klinik atau rumah sakit luar.

6. Permainan Harga Plasma Konvalesen oleh Mafia (Hoaks)

Beredar informasi melalui broadcast WhatsApp yang menyebutkan bahwa harga plasma konvalesen di lapangan mulai banyak dipermainkan oleh mafia. Dalam pesan tersebut dituliskan, harga plasma konvalesen di lapangan berkisar Rp 10 juta hingga Rp 13 juta. Sementara itu, harga yang ditetapkan oleh PMI adalah Rp 2,5 juta ditambah biaya administrasi sebesar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta. Disebutkan juga, harga plasma konvalesen tidak sebanding dengan yang diterima pendonor, yaitu hanya sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu.

Menanggapi hal itu, Palang Merah Indonesia (PMI) memastikan bahwa informasi yang beredar tersebut adalah tidak benar atau hoaks. PMI menegaskan, pihaknya memang menetapkan harga untuk biaya pengolahan pengganti plasma ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebesar Rp 2,5 juta. Untuk pembelian kantung harganya berkisar Rp 900 ribu - Rp 1,6 juta, tergantung pada mesin aferesis yang dipakai, reagen, dan lainnya.

7. Memakai Masker selama Setahun Bisa Memicu Kanker (Hoaks)

Beredar unggahan di media sosial sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa memakai masker monoton selama setahun akan menyebabkan kanker, karena racun karbon dioksida yang dihisap terus menerus. Faktanya, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS) dan juga Asosiasi Ahli Penyakit Paru-Paru AS menjelaskan bahwa masker tidak mengurangi kadar oksigen penggunanya. Tidak ada bukti ilmiah yang menyebut pemakaian masker bisa memicu kanker. Adapun berdasarkan penelitian penggunaan masker justru dapat menurunkan risiko penularan hingga 70 persen.

8. Panaskan Uang di Rice Cooker dapat Membunuh Virus Covid-19 (Disinformasi)

Beredar sebuah video di media sosial Facebook dengan klaim bahwa memanaskan uang di dalam rice cooker dapat membunuh virus Covid-19.

dr. Muhamad Fajri Adda'i, yang merupakan dokter relawan Covid-19 dan edukator kesehatan, langsung memberikan penjelasan dan mengirim tautan situs National Center for Biotechnology Information (NCBI). Dalam situs NCBI, disebutkan virus Covid-19 bisa dibunuh jika sebuah objek dipanaskan pada suhu di atas 75 derajat celcius dalam durasi waktu tertentu. Dokter Fajri pun setuju dengan referensi tersebut. Jika pada rice cooker harusnya sampai 100 derajat celcius bisa membuat air mendidih, menurutnya bisa membunuh virus. Namun cara ini tidak direkomendasikan para ahli medis.

9. Setelah Divaksin Kasus HIV dan Kanker Akan Meledak (Hoaks)

Beredar sebuah unggahan berisi daftar penyakit yang diklaim disebabkan oleh vaksin flu atau Covid. Unggahan tersebut disertai diagram yang berisi berbagai penyakit antara lain kanker, infeksi HIV/AIDS, stroke, diabetes, arthritis, dan serangan jantung. Bahkan, di bagian bawah, disebutkan bahwa kematian adalah salah satu akibat dari pemberian vaksin.

Klaim bahwa vaksin flu dapat menyebabkan infeksi HIV dan kanker, maupun penyakit serta gangguan serius lainnya adalah keliru. Vaksin flu telah banyak digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, dan belum pernah dilaporkan menyebabkan infeksi HIV maupun kanker.

10. Legenda NBA yang Terpapar HIV Donor Darah untuk Pasien Covid-19 (Disinformasi)

Beredar di media sosial unggahan foto yang menampilkan wajah legenda NBA, Magic Johnson. Foto ini diklaim bahwa legenda NBA tersebut mendonorkan darahnya untuk pasien Covid-19. Sebagaimana diketahui, Magic Johnson merupakan orang yang terpapar HIV/AIDS.

Faktanya, klaim bahwa Magic Johnson, legenda NBA yang terpapar HIV/AIDS sedang mendonorkan darah untuk pasien Covid-19 tidak benar. Adapun foto tersebut diambil pada tahun 2012 lalu, ketika Magic Johnson menjalani perawatan bersama Dr. David Ho

11. RSUD Teluk Kuantan Tolak Pasien Hamil (Disinformasi)

Beredar di media sosial sebuah informasi yang membicarakan tentang penolakan seorang pasien yang sedang hamil oleh RSUD Teluk Kuantan.

Direktur RSUD Teluk Kuantan, dr. Irvan Husen melalui Plt KTU, Mauris Ramadian, membantah informasi yang beredar di media sosial tersebut. Mauris menjelaskan bahwa pasien datang ke RSUD pada tanggal 20 Januari 2021 dengan keluhan batuk dan tak mau makan, kemudian pihak RSUD melakukan rapid tes yang mana hasilnya reaktif. Pasien tersebut dianjurkan untuk dirawat terlebih memiliki gejala batuk. Namun, saat diberikan surat pernyataan bersedia diisolasi, pasien tersebut menolak dan memaksa untuk pulang.