Kominfo Tangkal Lima Konten Hoaks Vaksin Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjaring sejumlah hoaks seputar vaksin Covid-19, yang beredar di tengah masyarakat dari 4 Juni hingga 5 Juni 2021.

Satu di antaranya klaim pendaftaran vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum berumum 18-59 tahun dengan mencatut nama Dinas Kesehatan Kota Semarang. Klaim tersebut beredar lewat pesan berantai di aplikasi percakapan WhatsApp pada 4 Juni 2021.

Setelah ditelusuri, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moh Abdul Hakam mengklarifikasi terkait adanya pesan yang beredar tersebut. Menurut Hakam, secara khusus, tidak ada vaksinasi Covid-19 massal bagi warga berumur 18-59 tahun.

Namun, warga berumur 18-59 tahun bisa mendapat vaksinasi Covid-19 secara gratis lewat mekanisme 3 in 1. Artinya, mereka harus membawa dua lansia untuk divaksinasi Covid-19, sebelum akhirnya mendapat vaksinasi gratis.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Bupati Pasangkayu

Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)
Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

Beredar di media sosial Facebook sebuahakun mengatasnamakan Bupati Pasangkayu, H. Yaumil Ambo Djiwa, SH. Akun tersebut memberikan informasi mengenai sebuah event promosi smartphone murah dengan cashbackseharga 1 juta rupiah.

Faktanya, menurut Diskominfopers Pasangkayu melalui akun Instagram resminya memberikan klarifikasi bahwa akun tersebut merupakan akun palsu. H. Yaumil Ambo Djiwa, SH hingga saat ini tidak pernah memiliki akun resmi mediasosial Facebook.

Efikasi Vaksin Covid-19 di Bawah 2 Persen

Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)

Beredar sebuah unggahan di media sosial terkait tingkat efikasi vaksin Covid-19 dalamdaftar vaksin yang beredar. Ditulis bahwa empat vaksin yang di antaranya adalah Pfizer, Johnson&J, Moderna dan AstraZeneca memiliki tingkat efikasi rendah di bawah dua persen.

Dilansir dari Kumparan.com yang dikutip dari AFP, klaim bahwa efikasi vaksin Covid-19 yang beredar di bawah dua persen adalah hoaks.

Dr Piero Olliaro, Penulis dari artikel “COVID-19 vaccine efficacy and effectiveness—the elephant (not) in the room” mengatakan bahwa, artikel tersebut bermaksud untuk memberikan pertimbangan tentang kemanjuran vaksin dan efikasinya ketika digunakan kepada populasi yang berbeda.

Tidak benar membandingkan vaksin berdasarkan uji klinis menggunakan pengurangan risiko relatif (RRR), dan menganggap vaksin dengan RRR lebih rendah tidak bekerja dengan cukup baik.

Video Kantong Jenazah Pasien Covid-19 Berisi Kertas

Ilustrasi jenazah.
Ilustrasi jenazah.

Beredar sebuah unggahan video yang memperlihatkan tumpukan kantong jenazah. Unggahan itu disertai dengan narasi “450 mati karena covid. Bahkan, ada 450 kantong berisi kertas. Begitulah yang terjadi di seluruhdunia.”

Faktanya, klaim terhadap video tersebut adalah keliru. Dilansir dari cek fakta Tempo, berdasarkan hasil penelusuran, video yang dibagikan itu merupakan rekaman aksi mahasiswakedokteran Universidad Central de Venezuela pada 6 April 2021.

Mereka berunjuk rasa dengan membawa properti kantong jenazah berisi kertas. Para mahasiswa itu melakukan aksi protes terkait banyaknya tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19 dan terbatasnya vaksin Covid-19 disana.

Ibadah Haji Batal karena Pemerintah Tidak Setor ke Arab Saudi

Sejumlah jemaah saling jaga jarak saat melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah di dalam Masjidil Haram saat melakukan rangkaian ibadah haji di Kota Suci Mekkah, Arab Saudi, Rabu (29/7/2020).  Karena pandemi virus corona COVID-19, pemerintah Arab Saudi hanya membolehkan sekitar 10.000 orang. (AP Photo)
Sejumlah jemaah saling jaga jarak saat melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah di dalam Masjidil Haram saat melakukan rangkaian ibadah haji di Kota Suci Mekkah, Arab Saudi, Rabu (29/7/2020). Karena pandemi virus corona COVID-19, pemerintah Arab Saudi hanya membolehkan sekitar 10.000 orang. (AP Photo)

Beredar postingan di media sosial Facebook, dalam narasinya menyebutkan bahwa penyebab gagalnya keberangkatan jemaah haji Indonesia di tahun 2021 karena Pemerintah tidak menyetor biaya ibadah haji ke Pemerintah Arab Saudi.

Dilansir dari Medcom.id, klaim penyebab gagalnya keberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini karena Pemerintah tidak menyetor biaya ibadah haji ke Pemerintah Arab Saudi adalah salah.

Faktanya, penyebab batalnya keberangkatan jemaah haji tahun 2021 adalah karena alasan pandemi Covid-19.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Saksikan video pilihan berikut ini: