Komisi I Bicara Calon Panglima TNI: Katanya Mau Potong Generasi, Awas Ada yang Marah

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon berbicara soal pengganti Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Ia membahas soal adanya potong generasi dan mengingatkan kemungkinan ada pihak lain yang tidak senang.

Hal itu dibahas Effendi saat Raker Komisi I DPR RI dengan Wamenhan RI, Panglima TNI beserta Kasad, Kasal, Kasau membahas agenda RKA Kemhan/TNI TA. 2023 dan isu-isu aktual lainnya.

"Nanti siapa lagi penggantinya siapa saya enggak tahu wallahualam, bapak apakah pak Yudo pak Fadjar atau siapa?" kaya Effendi, DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (5/9).

Effendi mengatakan, ia mendengar isu bahwa perwira tinggi TNI terjadi potong generasi, yakni kelahiran tahun 1968 ke atas perlu dipersiapkan atau menjadi kandidat potensial pengganti Panglima TNI Jenderal Andika.

"Denger-denger katanya ini potong generasi, katanya. Jadi langsung ke 94 semua. Jangan ada yang marah. Dipersiapkan yang akan, kelahiran 68 ke atas," ujarnya.

Politikus PDIP itu menilai suatu hal yang wajar apabila Panglima TNI selanjutnya akan memotong generasi. Effendi mengungkit adanya agenda besar pada 2024.

"Ya wajar, dipersiapkan untuk melintasi persiapan sampai lewat masa Pemilu karena ada 2 Pemilu besar, Pilpres, Pileg dan Pilkada. Wajar. Nah kami ikut di dalam pengambil kebijakan di bawah bapak. Makanya kita ikut memberikan pandangan, pak," ungkapnya.

Sebelumnya, Jenderal TNI Andika Perkasa akan memasuki pensiun sebagai prajurit pada Desember 2022. Sesuai tanggal lahir, 21 Desember 1964, jenderal berbintang empat itu akan memasuki usia 58 tahun. Dengan demikian, maka masa jabatannya sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga akan berakhir.

Calon Panglima TNI yang akan diajukan oleh Presiden kepada DPR untuk diuji dalam hal kompetensinya adalah perwira tinggi yang pernah menduduki kepala staf angkatan dan belum memasuki masa pensiun.

Dengan ketentuan itu, maka yang berpeluang dipilih oleh Presiden Joko Widodo saat ini adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (AD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (AL) Laksamana TNI Yudo Margono dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) Marsekal TNI Fadjar Prasetya.

Calon Panglima TNI dari Berbagai Aspek

Dari sisi umur, ketiganya memiliki peluang yang sama, karena hingga Desember 2022 masih memiliki waktu aktif antara satu hingga dua tahun. Jenderal Dudung Abdurachman, lahir pada 19 November 1965 atau berusia 57 tahun, Laksamana Yudo Margono lahir 26 November 1965 atau berusia 57 tahun dan Marsekal Fadjar Prasetyo lahir 9 April 1966 atau berusia 56 tahun.

Sementara dari sisi sistem bergiliran antar angkatan, jika saat ini Panglima TNI dijabat oleh perwira tinggi dari Angkatan Darat, maka pada periode selanjutnya adalah peluang bagi perwira tinggi dari TNI Angkatan Laut atau TNI Angkatan Udara.

Hanya saja, Panglima TNI sebelum Jenderal Andika Perkasa sudah dijabat dari TNI AU, yakni Marsekal Hadi Tjahjanto. Hadi Tjahjanto, setelah pensiun dari TNI, dipilih menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Melihat semua itu, maka yang berpeluang besar untuk dipilih oleh Jokowi adalah Laksamana TNI Yudo Margono, perwira tinggi dari korps pelaut yang pernah menjabat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I ini.

Meskipun demikian, Presiden sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam UUD Nomor 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara Republik Indonesia, memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa yang akan dipilih untuk memimpin tentara dari tiga matra itu.

Selain itu, dalam sejarah di Era Reformasi, Panglima TNI berturut-turut dijabat oleh perwira TNI AD pernah terjadi, yakni saat Jenderal Moeldoko digantikan oleh Jenderal Gatot Nurmantyo.

Siapapun yang terpilih, tidak akan mempengaruhi sistem yang sudah mapan kuat di lingkungan TNI. TNI akan selalu solid dalam menjalankan tugasnya untuk bangsa ini, baik dalam rangka operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang. Demikian seperti dikutip dari Antara.

Reporter Magang: Syifa Annisa [rhm]