Komisi HAM Indonesia kecam penyisiran LGBT yang dilakukan walikota pascakasus pemerkosaan Inggris

Jakarta (Reuters) - Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia pada Selasa mengecam rencana walikota untuk melakukan penyisiran yang menargetkan komunitas LGBT di kotanya setelah seorang pria setempat dihukum di Inggris karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap 48 pria.

Digambarkan oleh seorang jaksa penuntut sebagai "pemerkosa paling produktif dalam sejarah hukum Inggris", pelajar Indonesia Reynhard Sinaga bulan lalu dihukum karena diduga melakukan 136 perkosaan terhadap laki-laki, yang dibiusnya, dan dijatuhi hukuman seumur hidup dengan jangka waktu minimal 30 tahun.

Walikota Depok, Mohammad Idris, berencana untuk meminta petugas ketertiban umum untuk menggerebek tempat tinggal anggota komunitas LGBT, menurut pernyataan yang diunggah pekan lalu di situs resmi kota.

Homoseksualitas tidak diatur oleh hukum di Indonesia, kecuali di Provinsi Aceh di mana hukum Islam melarang hubungan sesama jenis. Tetapi negara mayoritas Muslim terbesar di dunia itu telah melihat peningkatan permusuhan terhadap komunitas LGBT.

"Penggerebekan meningkatkan risiko penganiayaan dan tindakan yang melanggar hukum lainnya," kata seorang komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Beka Ulung Hapsara, kepada Reuters.

Komisi itu juga telah menulis surat kepada pemerintah Depok.

Idris tidak menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar.

Dalam pernyataan itu, Idris juga mengatakan kota itu akan mendirikan pusat rehabilitasi untuk membantu "korban" dalam komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender.

Kasus Sinaga telah menerima liputan luas di Indonesia dan membuat banyak orang di komunitas LGBT yang sudah rentan merasa semakin terancam.

Dede Oetomo, seorang aktivis LGBT Indonesia, mengatakan komunitas itu bersiap untuk histeria atas kasus Sinaga.

Seorang siswa Indonesia berusia 22 tahun yang tinggal di Depok, yang diidentifikasi sebagai biseksual dan menolak untuk diidentifikasi, mengecam langkah tersebut, dengan mengatakan itu "melanggar ruang pribadi" dan membuang-buang uang.

Hampir 90% orang Indonesia yang memahami istilah LGBT merasa "terancam" oleh komunitas itu dan meyakini agama mereka melarang hubungan sesama jenis, menurut survei pada 2018.

Arus Pelangi, sebuah kelompok advokasi LGBT, melaporkan pada September terjadi lebih dari 1.800 kasus penganiayaan terhadap gay Indonesia antara 2006 dan 2017.