Komisi IV DPR minta Kementan evaluasi penanganan Penyakit Mulut & Kuku

Komisi IV DPR RI meminta kepada Kementerian Pertanian (Kementan) mengevaluasi penanganan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak mulai dari cara pengambilan dan pelaporan kasus hingga penanganan pencegahan lalu lintas hewan untuk meminimalkan penyebaran.

Ketua Komisi IV DPR RI Sudin dalam rapat kerja bersama dengan Menteri Pertanian (Mentan) di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, Kamis, meminta Kementan memperbaiki cara pengambilan dan pelaporan data PMK di lapangan secara riil dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sudin mengatakan masih terjadi perbedaan data kasus kematian yang signifikan antara data yang dilaporkan dengan yang terjadi di lapangan. Hal itu menyebabkan peternak sulit mendapatkan kompensasi dari pemerintah atas ternak yang mati akibat PMK.

Baca juga: Kementan sebut kejadian PMK turun 96,96 persen dari puncak kasus

"Akibatnya peternak sulit mendapatkan kompensasi. Harusnya kompensasi ini didengungkan, diinfokan, disiarkan, kepada para peternak agar mereka tahu yang kena PMK kemudian mati bagaimana mekanismenya," kata Sudin.

Selain itu Sudin juga menyoroti mengenai penyebaran kasus PMK yang terjadi akibat adanya lalu lintas hewan. Menurutnya, pengawasan oleh Badan Karantina Pertanian Kementan harus diperketat karena masih banyak lalu lintas hewan ternak terjadi dari wilayah yang terpapar PMK.

"Lalu lintas ternak itu melalui jalan biasa selalu ada pemeriksaan karantina, dan juga ada pemeriksaan dari pihak kepolisian. Maka mereka ambil semuanya sekarang jalan tol, sedangkan di jalan tol itu belum ada pihak karantina yang membuat pos penyekatan atau pemeriksaan," kata Sudin.

Baca juga: Anggota Komisi IV DPR RI ingatkan Kementan serius atasi PMK

Hewan ternak yang terinfeksi PMK hingga saat ini mencapai 519.562 ekor dengan 387.878 ekor sembuh, 11.436 dipotong bersyarat, 7.948 ekor mati, dan belum sembuh sebanyak 112.200 ekor. Cakupan vaksinasi PMK pada hewan ternak sudah mencapai 2.191.669 ekor.

Dampak dari wabah PMK paling signifikan dirasakan oleh peternak sapi perah yang mengalami penurunan produksi susu.

Salah satu perusahaan makanan dan minuman di Indonesia yaitu Nestle mengaku mengalami penurunan pasokan lebih dari 30 persen susu segar dari peternak sapi perah akibat dampak wabah PMK. Meskipun sudah 2,1 juta ekor ternak yang telah divaksinasi, produksi susu sapi belum pulih seperti masa sebelum adanya PMK.

Baca juga: Nestle alami penurunan pasokan susu 30 persen akibat PMK