Komisi IX DPR: Ulama dan Tokoh Masyarakat Berperan Penting Ajak Masyarakat Vaksin

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR Nurhadi mengatakan Peran ulama dan tokoh dalam mengajak masyarakat di banyak daerah agar mengikuti program vaksinasi Covid-19 sangat besar.

Pendekatan ulama dan tokoh diharapkan hadir di Aceh mengingat masih cukup banyak masyarakat di sana yang belum divaksin.

Dia mengatakan tipikal masyarakat Aceh yang agamis dan berpendidikan dinilai perlu menggunakan pendekatan tersebut dalam meningkatkan capaian vaksin.

"Pendekatan melalui ulama atau tokoh agama, tokoh masyarakat dan akademisi harus lebih ditonjolkan, selain peran serta pemerintah dalam rangka meningkatkan capaian vaksinasi guna menciptakan kekebalan komunal di masyarakat," kata Nurhadi, Jumat (1/10/2021).

Beberapa hari lalu, puluhan orang mendatangi lokasi vaksin dan mengusir tenaga vaksinasi di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Ujong Serangga, Desa Padang Baru, Kabupaten Aceh Barat Daya. Massa mengobrak-abrik meja petugas yang saat itu sedang memvaksin.

Nurhadi yakin peristiwa di Aceh itu tidak akan mempengaruhi antusiasme masyarakat di daerah lain untuk mengikuti vaksinasi Covid-19.

"Saya rasa saat ini animo masyarakat sudah sangat tinggi untuk ikut program vaksinasi," kata Nurhadi.

Sementara itu, Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan sependapat pendekatan ulama dan tokoh masyarakat harus lebih dimaksimalkan di Aceh.

"Perlu pendekatan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat agar mereka dapat menjadi contoh dan mengimbau warga atau umatnya untuk segera vaksinasi," kata Iwan Ariawan.

Kedepankan Pendekatan Sosial Budaya

Seorang warga menerima vaksin virus corona COVID-19 Sinovac di pusat vaksinasi massal darurat di lapangan sepak bola di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021). Vaksinasi ini dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional. (Juni Kriswanto/AFP)
Seorang warga menerima vaksin virus corona COVID-19 Sinovac di pusat vaksinasi massal darurat di lapangan sepak bola di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021). Vaksinasi ini dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional. (Juni Kriswanto/AFP)

Menurut Iwan, pemerintah daerah setempat juga perlu mengerti mengapa masyarakat tersebut menolak vaksinasi. Pemda juga perlu mengetahui siapa yang dipercaya oleh masyarakat.

Kemudian, dia menilai perlunya komunikasi yang sesuai dengan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat. Dia menduga ketakutan terhadap efek samping atau alasan kepercayaan menjadi pemicu masyarakat tersebut menolak ikut vaksinasi.

"Kejadian tersebut harus diinvestigasi dan dilakukan tindakan koreksi," ujarnya.

Sedangkan sosiolog dari Universitas Gadjah Mada Sunyoto Usman menilai banyak faktor yang bisa membuat masyarakat masih enggan mengikuti vaksinasi. "Salah satunya ada sejumlah tokoh panutan yang tidak percaya ada Covid-19, lalu tidak ada gunanya vaksin," kata Sunyoto.

Pandangan tokoh tersebut kemudian berkembang melalui berbagai media tradisional dan modern, lalu menjadi referensi banyak orang. "Sosialisasi vaksin seharusnya tidak individual, tapi melibatkan tokoh-tokoh yang jadi panutan," kata Sunyoto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel