Komisioner KPAI: Jangan Paksakan Anak Dapat Ranking Saat Pandemi

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVAPandemi COVID-19 berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat termasuk dalam sistem pembelajaran. Hampir 9 bulan pasca kasus COVID-19 ditemukan di tanah air pada Maret lalu, pemerintah memutuskan untuk memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui daring. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona semakin meluas.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarty menyoroti adanya pemsangan target pada anak oleh orang tua selama pandemi COVID-19.

"Saya suka aneh sama orangtua yang enggak memahami anaknya. Tetap pasang target rangking, sebenarnya mereka mau anaknya bahagia atau enggak sih. Kalau anak bahagia kan imunnya baik," kata dia dalam VIVA Talk, Selasa 22 Desember 2020.

Padahal kata dia, hal tersebut bisa membuat anak menderita. Bahkan cenderung bisa mengalami kekerasan lantaran tidak memenuhi target tersebut.

"Ini kerap terjadi, kalau enggak mengerjakan PR orangtua bentak, anak mengalami kekerasan secara psikologis anak sudah menderita karena haknya selama pandemi telah hilang harusnya mengerti. Ibu yang baik itu selalu memikirkan kepentingan anak melindungi anak dengan tidak memaksakan sesuatu," tutur dia.

Retno melanjutkan, pihaknya juga menemukan beberapa dampak yang terjadi selama PJJ di pandemi COVID-19 salah satunya terkait dengan aksi bunuh diri yang dilakukan pelajar karena terlalu banyaknya tugas selama pandemi.

"Bunuh diri direkam anak SMA di Goa,minum racun alasan salah satunya adalah karena beratnya PJJ. Ada anak MTS kelas 9 juga yang mendapat tugas 11 mata pelajaran ada batas waktu pengumpulan, dia sempat bilang tidak bisa jawab tugas karena tugas hanya diberikan via WA tanpa adanya penjelasan. Jangan sampai anak sendirian, jangan sampai dia ambil jalan singkat," kata dia.

Di sisi lain, Retno juga menyarankan kepada orangtua jika tengah emosi ketika mendampingi atau mengajarkan anak selama PJJ, ada baiknya menenangkan diri agar emosi tersebut tidak dilampiaskan pada anak sehingga berdampak pada mereka.

"Kalau sudah enggak sabaran lebih baik ke luar ruangan, kalau saya lebih baik ke belakang rumah dengerin lagu atau nyanyi-nyanyi. Supaya kemarahan saya tidak saya lampiaskan pada anak, ini penting," ujar Retno.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak