Komjen Listyo dan Satgas Pangan Sidak ke Gudang Importir Kedelai

Raden Jihad Akbar, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kepala Bareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo bersama Kepala Satgas Pangan Polri, Brigjen Helmy Santika melakukan pemeriksaan di sejumlah gudang importir dan distributor kedelai. Inspeksi dadakan atau sidak dilakukan di wilayah Cikupa, Cengkareng, dan Bekasi.

Listyo mengungkapkan, kenaikan harga kedelai impor ini jadi perhatian Satgas Pangan saat ini. Karena itu, pengecekan di lapangan pun dilakukan di seluruh Indonesia.

“Satgas telah menginstruksikan satgas kewilayahan di tiap polda untuk melakukan pengecekan harga, ketersediaan kedelai serta sentra-sentra pengolahan khususnya UMKM yang memproduksi tempe dan tahu,” kata Listyo pada Selasa, 5 Januari 2021.

Baca juga: Kedelai Impor Mahal, Mentan Syahrul Genjot Produksi Lokal

Sementara itu, Kasatgas Pangan Polri, Brigjen Helmy Santika mengatakan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan sejumlah pihak terkait kedelai ini. Hal itu dilakukan untuk menelusuri dugaan adanya penimbunan serta permainan harga yang mengakibatkan harga kedelai impor naik.

“Kami telah memiliki data dan analisa ketersediaan serta kebutuhan kedelai secara nasional,” kata Helmy.

Menurut dia, memang harga kedelai di pasar dunia terpengaruh dengan adanya masa pandemi COVID-19. "Berdasarkan data FAO, pada Desember 2020 ada kenaikan harga kedelai di pasar global sebesar 6 persen dari harga awal US$435 menjadi US$461 per ton," tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perdagangan mengonfirmasi bahwa harga kedelai mengalami kenaikan. Kenaikan itu terjadi meskipun stoknya cukup untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan, kenaikan tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).

Harga kedelai impor di tingkat perajin, katanya, mengalami penyesuaian atau kenaikan dari Rp9.000 per kilogram pada November 2020 menjadi Rp9.300-9.500 per kg pada Desember 2020. Naik sekitar 3,33-5,56 persen.

“Dengan penyesuaian harga, diharapkan masyarakat akan tetap dapat mengonsumsi tahu dan tempe yang diproduksi oleh perajin,” kata Suhanto dikutip dari keterangannya, Sabtu, 2 Januari 2021.

Sementara itu, pada Desember 2020 harga kedelai dunia dikatakannya tercatat sebesar US$12,95 per bushels. Naik 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat US$11,92 per bushels.

Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), Suhanto menyebutkan harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 sebesar US$461 per ton. Naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya US$435 per ton.

Menurut Suhanto, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020, permintaan kedelai Tiongkok naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah.

Hal itu menyebabkan terjadinya hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia. Gakoptindo menyatakan, akan turut melakukan penyesuaian harga tahu dan tempe dengan harga kedelai impor.

Meski demikian, Suhanto menekankan, berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo), saat ini para importir selalu menyediakan stok kedelai di gudang importir sekitar 450 ribu ton.

“Apabila kebutuhan kedelai untuk para anggota Gakoptindo sebesar 150-160 ribu ton per bulan, maka stok tersebut seharusnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan 2-3 bulan mendatang,” ujarnya.

Karena itu, Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat terus memasok secara berkelanjutan. Khususnya kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikkan harga.

Berdasarkan data BPS, saat ini harga rata-rata nasional kedelai pada Desember 2020 sebesar Rp11.298 per kg. Harga ini turun 0,37 persen dibanding November 2020 dan turun 8,54 persen dibandingkan Desember 2019.