Komnas HAM: Brigadir J Diancam Tanggal 7 Malam, Pulang 8 Agustus Kemudian Meninggal

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J sempat mendapat ancaman pembunuhan ketika di Magelang saat acara pesta ulang tahun pernikahan Sambo dengan Putri.

Kata komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Choirul Anam, Brigadir J telah mendapat ancaman pada Kamis (7/8) di Magelang.

"Ancaman itu sejak awal kami temukan ancaman akan dibunuh itu terjadi tanggal 7 (Agustus) malam, terus pulang tanggal 8 (Agustus) kemudian meninggal," ungkap Anam di gedung Komnas HAM, Kamis (1/9).

Ancaman tersebut datang ketika Brigadir J diduga telah melakukan tindak pelecehan seksual kepada Putri. Usai dugaan pelecehan tersebut, PC dibantu oleh Kuat Ma'ruf yang merupakan sopir pribadi Sambo beserta Susi selaku ART membawanya untuk masuk ke dalam kamar.

Setelah rombongan PC tiba di Jakarta, FS melakukan rencana pembunuhan terhadap Brigadir J. Sehingga Yoshua tewas pada Jumat (8/7) di rumah dinas Komoplek Polri, Jakarta Selatan.

Anam mengaku heran, lantaran antara waktu pengancaman dengan waktu pembunuhan kurang dari 24 jam.

"Makanya dari awal Komnas HAM 'loh kok ada ancaman enggak sampai 24 jam terus dia meninggal'," imbuh Anam.

Sebelumnya, aksi penembakan terjadi di rumah dinas mantan Kepala Divisi Propam Polri Irjen Ferdy Sambo pada Jumat, 8 Juli 2022. Dalam insiden ini, Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat tewas karena luka tembak.

Dalam kasus ini, Polri juga telah menetapkan lima orang tersangka yakni mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, istri Sambo yang bernama Putri Candrawathi, Brigadir RR, Bharada E dan Kuwat Ma'ruf.

Para tersangka dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 juncto Pasal 56 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. [rhm]