Komnas HAM: Dugaan Pelecehan Seksual Ibu P Jangan Disebarkan Dulu

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik mengakui belum meyakini adanya peristiwa dugaan pelecehan terhadap Istri Irjen Ferdy Sambo oleh Brigadir J. Karena minimnya saksi mata dalam insiden berdarah di rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Jumat (8/7).

"Jadi saksi yang menyaksikan penodongan itu tidak ada, makanya kami juga belum bisa meyakini apa terjadi pelecehan seksual atau tidak," kata Taufan saat diskusi virtual, Jumat (5/8).

Meski begitu, Taufan mengatakan bahwa ketidakyakinan terkait pelecehan ada atau tidak lebih kepada tidak adanya saksi mata dalam kasus ini. Meskipun, dalam hal ini, Istri Ferdy Sambo dalam Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) tetap sebagai korban.

"Seseorang yang diduga atau dia mengaku atau dia sudah mengadu bahkan sebagai korban pelecehan seksual meski kita belum bisa mengatakan itu benar atau tidak dia tetap harus diperlakukan sebagaimana layaknya seorang korban," ucapnya.

"Jadi boleh enggak setuju tapi itu standar HAM Internasional dan sudah masuk dalam sistem nasional kita dalam UU TPKS. Maka kita tidak bisa sekarang ini intervensi lebih jauh ke Ibu PC karena dia masih dalam perawatan psikologis dari psikolog," tambahnya.

Oleh sebab itu, Taufan mengimbau terkait kasus laporan dugaan pelecehan yang saat ini telah diselidiki Tim Khusus Polri harus lebih dahulu dipastikan, karena jangan sampai terjadi justifikasi.

"Nah itu soal kekerasan seksual atau dugaan pelecehan seksual, semua belum bisa memastikan apakah itu terjadi atau tidak. Makanya saya bilang jangan disebarkan apa dulu. Judgement ya, kalau menduga, judgement si A belum bisa," tuturnya.

Dalam kasus ini, Polres Metro Jakarta Selatan sempat membeberkan kronologi tewasnya Brigadir J di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo di kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) sore.

Dimana, kasus itu diawali dengan dugaan dugaan penodongan dan pelecehan oleh Brigadir J terhadap istri Irjen Ferdy Sambo. Atas adanya tindakan itulah, menjadi pemicu istri Ferdy Sambo berteriak, yang membuat Bharada E datang.

Namun saat datang turun dari lantai atas, Brigadir J langsung menghempaskan tembakan yang berujung baku tembak dengan Bharada E. Sampai berujung dua laporan yang kala itu ditindaklanjuti Polres Metro Jakarta Selatan.

Timsus Lakukan Evaluasi LP

Sebelumnya, Polri akan melakukan evaluasi terhadap penanganan dua Laporan Polisi (LP) yang belakangan dilimpahkan ke Bareskrim terkait peristiwa adu tembak ajudan Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Keduanya yakni terkait dugaan pelecehan istri Ferdi Sambo, Putri Candrawathi dan dugaan ancaman serta kekerasan.

"Kami juga dari Timsus mendapatkan surat dari penyidik untuk melakukan evaluasi terhadap penanganan LP limpahan dari Polres ke Polda Metro," tutur Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/8).

"Yang nantinya akan dilakukan evaluasi oleh Timsus secara bersama-sama, untuk mengkaji apakah tahapan-tahapan proses yang mereka lakukan sudah sesuai dengan ketentuan atau tidak," sambungnya.

Menurut Agus, upaya tersebut dilakukan dalam rangka melaksanakan perintah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo demi membuat terang kasus kematian Brigadir J. Sebab itu pula, ada 25 polisi yang kini dimutasi dalam rangka pemeriksaan terkait dugaan menghambat penanganan perkara tersebut.

"Sehingga siapapun yang turut serta atau menyuruh melakukan itu akan terbuka. Tentunya memang kendala daripada upaya pembuktian adalah adanya barang bukti yang rusak atau dihilangkan, sehingga membutuhkan waktu untuk mengungkap tuntas kasus ini," katanya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel