Komnas HAM Minta Petinggi Polri Jamin Keadilan dari Kematian Brigadir J Terpenuhi

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Beka Ulung Hapsara menyatakan bahwa dalam kasus kematian Brigadir J potensi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terjadi berkaitan dengan hak hidup dan mendapatkan keadilan.

"Pertama kita ngomong hak hidup, terbunuhnya Brigadir J artinya hak hidup ini hilang. Kemudian hak atas keadilan, bagaimanapun juga kasus ini menghilangkan keadilan," ujar Beka kepada wartawan, (31/8).

Oleh sebab itu, Beka menilai jika Polri harus bertanggung jawab atas direnggutnya dua hak tersebut. Termasuk tindakan Obstruction Of Justice yang dilakukan untuk menghilangkan barang bukti.

"Petinggi kepolisian yang seharusnya menjamin keadilan bisa dipenuhi. Kemudian misalnya soal penghilangan alat bukti, kemudian foto, rekaman suara dan sebagainya ini sedang kami analisa. itu yang sedang kami diskusikan," ucapnya.

Kendati demikian, Beka menyatakan apabila mengacu pada pokok kasus dugaan pembunuhan berencana dalam rekonstruksi, telah terkonfirmasi. Dengan kuatnya dugaan tindakan Penghalangan keadilan (Obstruction of justice).

"Tetapi yang terpenting adl peristiwa pembunuhan itu sendiri, bahwa itu sudah terjadi, dan penanganannya kasus pembunuhan ini itu melibatkan banyak sekali aparat kepolisian," terangnya.

Pasalnya, lanjut Beka, jika tindakan obstruction of justice itu apabila tidak diungkap bisa merusak rasa keadilan dalam kasus kematian Brigadir J. Hal itu nantinya bakal turut dituangkan dalam laporan Komnas HAM.

"Kami coba komunikasikan agar disampaikan secara langsung kepada teman-teman kepolisian. Tapi yang jelas memang sudah ada kesimpulan sementara sudah ada obstruction of justice," ucapnya.

"Mendetailkan bagaimana merusak menghilangkan barbuk, kemudian menghalangi proses pemenuhan hak atas keadilan dari korban dan keluarga korban ini sedang kami detilkan apa saja elemen- elemen dari obstruction of justice dari kasus atau peristiwa ini," lanjutnya.

Untuk diketahui, lima tersangka kasus pembunuhan Brigadir J, antara lain Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka RR alias Ricky Rizal, Kuat Maruf alias KM, Irjen Ferdy Sambo alias FS, dan Putri Candrawathi alias PC.

Pada kasus ini, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Juncto 55 dan 56 KUHP.

Sedangkan, Brigadir RR dan KM dipersangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara Ferdy Sambo dipersangkakan dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. Selanjutnya, Putri Candrawathi disangkakan dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56. [eko]