Komnas HAM Temukan Perbedaan Antara Keterangan dan Rekonstruksi Kasus Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengakui adanya perbedaan dari hasil temuan penyelidikan dengan rekonstruksi Tim Khusus (Timsus) terkait pembunuhan berencana Brigadir J, Selasa (30/8) kemarin.

"Kalau ada pertanyaan ada perbedaan atau tidak misalnya dengan temuan-temuan Komnas sebelumnya. Ya di dalam rekonstruksi itu sendiri ada perbedaan satu adegan dengan adegan lain," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam kepada wartawan, Rabu (31/8)

Dia menjelaskan, perbedaan keterangan itu saat rekonstruksi terjadi, lantaran setiap orang memiliki kesempatan untuk menunjukan perbedaan-perbedaan ketika saat melakukan reka adegan ketika rekonstruksi.

"Kalau itu (perbedaan) sesuatu yang biasa saja sebenarnya dalam proses. Itu hak untuk melakukan pembelaan, hak untuk mempertahankan keterangan dalam sebuah proses pidana," ucapnya.

"Kalau dalam konteks temuan Komnas HAM, kami punya beberapa catatan yang itu akan kami tuangkan dalam laporan akhir kami," tambah Anam.

Adapun pada kesempatan lain, Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan, jika perbedaan keterangan itu adalah hal yang wajar dan berkaitan dengan posisi-posisi setiap para tersangka selama reka adegan.

"Ya memang ada perbedaan misalnya soal pelaku terus kemudian soal posisi dari masing-masing orang. Inikan Saya kira ini wajar Tentu saja tidak dalam tanda kutip persis banget 100 persen tetapi ada perbedaan-perbedaan sedikit," ujar Beka.

Meski ada perbedaan, Beka mengatakan jika rekonstruksi yang berlangsung kemarin itu telah mengkonfirmasi adanya kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

"Saya kira secara keseluruhan menggambarkan memang peristiwa pembunuhan Brigadir J," ucapnya.

Disamping itu, Beka memastikan jika dari rekonstruksi kemarin telah menambahkan gambaran untuk menyusun hasil laporan penyelidikan yang bakal diumumkan pada pekan ini.

"Rekonstruksi kemarin ini menambah materi dan menambah detail-detail yang ada di Komnas dan itu tentu saja sedang kami selesaikan mudah-mudahan bisa sesuai dengan target minggu ini selesai," sebutnya.

Proses Rekonstruksi

Sebelumnya, Timsus Polri merampungkan rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat. Rekonstruksi dilakukan di rumah pribadi, salah satu aula di samping rumah pribadi dan rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.

Adegan per adegan diperagakan lima tersangka yakni Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E, Bripka RR dan Kuat Maruf dalam rekonstruksi tersebut. Total ada 74 adegan yang diperagakan dimulai dari rumah pribadi hingga rumah dinas.

Dari pantauan di lokasi, Selasa (30/8) petang, penyidik mengumumkan selesainya rekonstruksi kasus pembunuhan berencana Brigadir J sekitar pukul 17.10 WIB. Adapun reka adegan dimulai pada pukul 10.00 WIB.

Melalui pengeras suara, penyidik menyatakan rekonstruksi terakhir adalah adegan ke-74 dengan Kuat Maruf yang memeragakan penyerahan dua bilah pisau. Pisau itu diserahkan Kuat Maruf kepada ajudan Ferdy Sambo bernama Deden.

Setelah itu, kelima tersangka kembali diantar ke tempat penahanannya. Kendaraan dari Brimob Polri pun bergegas meninggalkan lokasi rekonstruksi termasuk Ferdy Sambo.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi mengatakan, pisau tersebut milik Kuat Maruf yang dibawa saat kejadian di Magelang. Namun Andi tidak menjelaskan secara gamblang pisau tersebut diperuntukkan Kuat Maruf terkait insiden di Magelang.

"Itu pisau yang dibawa oleh saudara Kuat Maruf dari Magelang. Pada saat kejadian ada di Magelang, ada peristiwa sehingga itu digunakan oleh Kuat," kata Andi saat konferensi rumah pribadi Ferdy Sambo, di Jalan Saguling III, Duren Tiga Barat, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (30/8). [fik]