Komnas HAM Ungkap Posisi Mayat Brigadir J Usai Dieksekusi di Rumah Dinas Ferdy Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membeberkan foto kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo Duren Tiga.

Adapun foto tersebut diperlihatkan saat Komnas HAM mengadakan konferensi pers di gedung Komnas HAM. Posisi Brigadir J yang saat itu tengkurap berada di dekat tangga yang masih bersimbah darah.

"Ini yang kami dapatkan foto yang kami bilang tadi foto tanggal 8 Juli 2022, nggak sampai 1 jam setelah peristiwa penembakan," ungkap Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam hari Kamis, (1/9).

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) merampungkan penyelidikan kasus pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat. Hasil temuan Komnas HAM terkait pembunuhan Brigadir J itu telah diserahkan kepada Timsus Polri hari ini.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan, penyerahan rekomendasi hasil penyelidikan pembunuhan Brigadir J ke Timsus Polri sekaligus mengakhiri tugas Komnas HAM. Namun Taufan mengatakan, Komnas HAM tetap akan mengawal perkara tersebut hingga meja hijau.

"Saya Ketua Komnas HAM dan Pak Irwasum sebagai Ketua Timsus ingin menyampaikan kepada publik semua kami akhiri. Tetapi tentu saja masih ada tugas lain dari Komnas HAM yaitu melakukan pengawasan proses selanjutnya sampai nanti di persidangan," kata Taufan saat konferensi pers di kantor Komnas HAM, Kamis (1/8).

Adapun rekomendasi hasil temuan Komnas HAM yang diberikan ke Timsus Polri terdiri dari tiga poin. Pertama Komnas HAM menemukan adanya pembunuhan.

"Ada tiga substansi dari rekomendasi Komnas HAM, yang pertama terhadap kasus itu sendiri kasus pembunuhan, kalo di kepolisian dikenal dengan Pasal 340. Kalau di Komnas HAM ekstra judicial killing," kata Irwasum Komjen Agung Budi Maryoto usai menerima rekomendasi Komnas HAM.

Poin selanjutnya menurut Agung, tidak ditemukan penganiayaan dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

"Rekomendasi Komnas HAM menyimpulkan tidak ada tindak pidana kekerasan dan penganiayaan," tutur dia.

Poin ketiga yakni Komnas HAM menyimpulkan adanya obstraction of justice atau upaya penghalangan proses hukum.

"Dari rangkaian itu adanya kejahatan tindak pidana obstruction of justice. Yang kebetulan oleh Timsus juga sedang dilakukan langkah-langkah penanganan tindak pidana obstruction of justice," kata Agung.

Ketiga poin tersebut yang akan pertimbangan Tim Khusus Polri dalam penyelidikan pembunuhan berencana Brigadir J yang diotaki mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. [ded]