Komnas PA Serukan Status Depok sebagai Kota Ramah Anak Dievaluasi

Mohammad Arief Hidayat, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) kembali menyoroti kasus kekerasan terhadap anak di Depok, Jawa Barat. Kali ini, nasib tragis dialami seorang bayi yang berusia tujuh bulan yang dianiaya oleh ayah kandungnya.

Komnas PA menuntut Pemerintah Kota Depok bertindak lebih dari semestinya, terutama karena kota itu disebut sebagai salah satu kota yang ramah terhadap anak.

“Kami minta untuk segera dievaluasi status Depok sebagai kota ramah anak, dan mengevaluasi Perda (peraturan daerah) tentang perlindungan anak di Kota Depok,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 17 Maret 2021.

Untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak, katanya, sudah saatnya Wali Kota Depok segera ambil tindakan. Dia mengusulkan satu gerakan bersama perlindungan terhadap yang diinisiasi oleh pemerintah mulau dari tingkat kampung, kelurahan hingga kecamatan.

Arist berjanji akan segera mendatangi rumah korban guna memberikan dukungan serta pemulihan psikologis. Kemudian akan menemui pelaku di tahanan Polres Metro Depok.

Polres Metro Depok sebelumnya membekuk EP, pria yang tega menganiaya bayi anak kandungnyahingga babak belur. Petugas menangkapnya di tempat persembunyiannya di wilayah Citeureup, Kabupaten Bogor, Rabu.

Menurut Kepala Polres Metro Depok Komisaris Besar Polisi Imran Edwin Siregar, kasus penganiayaan terhadap anak itu terjadi pada 12 Maret 2021. Pelaku beraksi ketika si anak rewel dan menangis melulu, sementara sang istri atau ibu korban pergi bekerja.

Beberapa saat kemudian, sang istri pulang dan mendapati si bayi menangis dengan kondisi wajah lebam. Dia menanyai sang suami dan suaminya mengakui telah menganiaya anak mereka.

Si istri segera melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Sang suami sempat kabur dan buron selama empat hari sampai akhirnya ditangkap. Dalam pemeriksaan terungkap bahwa sang suami memang kerap mengasari istrinya, selain juga menganiaya si anak ketika sang ibu tak berada di rumah.

EP dijerat dengan Pasal 44 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang ancaman hukumannya penjara selama 10 tahun.