Komnas PA Setorkan 4 Nama Saksi untuk Kasus Pelecehan Seksual di Batu

·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait kembali mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Timur pada Kamis, 10 Juni 2021. Bersama perwakilan korban, ia menyetorkan empat nama pengelola SPI, sekolah di Kota Batu, Jawa Timur, untuk dijadikan saksi dalam kasus pelecehan seksual di sekolah itu.

Arist menjelaskan, “Kehadiran saya untuk menambahkan informasi, selain terduga JE yang kami laporkan, tapi ada tambahan [informasi] ada 14 yang sudah di-BAP dan yang sudah divisum. [Juga informasi] ada empat pengelola di sana sebagai orang yang mengetahui. Tentu nama-nama nanti akan kami sampaikan,” ujarnya.

Arist menuturkan, keempat pengelola SPI yang namanya diajukan sebagai saksi itu tidak hanya sebagai mendengarkan adanya dugaan pelecehan seksual di SPI. Tapi pernah menerima aduan dari korban. “Jadi, kalau dikatakan enggak ada yang mengetahui itu bohong. Itulah kehadiran saya untuk menambahkan [informasi dan saksi], supaya dua alat bukti cukup,” katanya.

Ia mengapresiasi Polda Jawa Timur yang menindaklanjuti kasus yang dilaporkannya itu. “Sehingga nanti akan ditentukan apakah terduga pelaku, termasuk pengelola yang mengetahui itu, dipanggil sebagai saksi atau tersangka. Harapan saya kalau bukti cukup maka berharap ditangkap supaya cepat selesai.”

Kasus itu diungkap berawal dari laporan Komnas PA yang mewakili korban pekan lalu mengadukan seorang pemilik sekolah di Kota Batu, Jawa Timur, atas tuduhan pelecehan seksual dengan korban belasan siswa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur di Surabaya pada Sabtu, 29 Mei 2021. Datang ke Polda Jatim Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dan Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon.

"Hari ini begitu menyedihkan bagi Komnas Anak, karena ada sebuah institusi pendidikan yang cukup dikagumi, khususnya di Kota Batu dan masyarakat Jawa Timur. Ternyata sekolah berinisial SPI ini menjadi sumber malapetaka bagi peserta didik di sana," kata Arist saat melapor.

Arist mengatakan korban berasal dari sejumlah daerah. “[Korban] yang seyogianya dibantu agar bisa berprestasi dan sebagainya, tetapi malah dieksploitasi secara ekonomi, seksual, dan sebagainya. Ada yang dari Palu, Kalimantan Barat, Kudus, Blitar, Kalimantan Timur, dan sebagainya," ujarnya.

Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon menjelaskan, sekolah yang dikelola terlapor mendisiplinkan diri pada pendidikan enterpreneurship. "Ada pendidikan pertanian, kewirausahaan, bahkan membuat film kemarin terbaik se Asia Tenggara di mana yang main dari anak-anak siswa sekolah itu sendiri," ujarnya.

Siswa di sekolah terlapor berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan berlatarbelakang agama beda-beda. "Kategori anak orang miskin atau anak yatim atau yatim piatu yang memang ditolong oleh lembaganya, oleh Yayasan yang memang secara ekonomi berkecukupan," katanya.

Pihak sekolah membantah tudingan Komnas PA. "Saya juga kaget dan merasa aneh dengan pemberitaan ini. Kami tidak tahu siapa yang memasukkan bahan pelaporan, dengan tujuan apa, dan memiliki motif apa membuat laporan itu," terang Kepala Sekolah yang diadukan Komnas PA, R, dalam pesan tertulis diterima wartawan pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel