Komodo Masuk Daftar Merah IUCN Kategori Terancam Punah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Spesies komodo, kadal purba raksasa kebanggaan Indonesia masuk dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature (IUCN) pada Sabtu, 4 September 2021. Habitat komodo dinilai semakin kecil karena efek dari naiknya permukaan air laut yang didorong oleh krisis iklim.

Melansir The Guardian, Minggu, 5 September 2021, menurut IUCN, komodo hidup di tepi hutan dan sabana, jarang berkeliaran 700 meter di atas permukaan laut. Dengan naiknya permukaan laut ini mengakibatkan komodo kehilangan 30 persen habitatnya dalam 45 tahun ke depan.

Sebelumnya, IUCN menetapkan komodo sebagai spesies yang rentan dan kini berubah menjadi spesies yang terancam punah. Pembaruan status ini merupakan kali pertama bagi komodo setelah 20 tahun. IUCN mengumumkan daftar ini dalam kongres konservasi dunia di Marseille, Prancis.

Perubahan ini muncul setelah adanya riset mengenai pemanasan global dapat berdampak pada kadal raksasa, dengan kesimpulan perlunya tindakan konservasi yang mendesak untuk menghindari risiko kepunahan. Habitat komodo tidak bisa dipindahkan ketempat yang lebih tinggi.

Habitat mereka juga terfragmentasi oleh aktivitas manusia, sehingga populasi mereka lebih rentan. Di Pulau Flores, habitat komodo diperkirakan telah menyusut lebih dari 40 persen antara 1970 dan 2000.

"Karena tekanan manusia, hutan perlahan-lahan mulai ditebang dan menghilang, serta sabana pun terkena kebakaran dan degradasi. Itulah mengapa hewan tersebut benar-benar terancam. Habitat dibuat menjadi lebih kecil karena naiknya permukaan air laut," ujar Gerardo Garcia, kurator vertebrata dan invertebrata dari Chester Zoo.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tak Hanya Komodo

Ilustrasi ikan pari. (Dok.Tarryn Myburgh/Unsplash.com)
Ilustrasi ikan pari. (Dok.Tarryn Myburgh/Unsplash.com)

Tak hanya komodo, IUCN juga memperingatkan bahwa penangkapan ikan akan mengancam hampir dua dari lima hiu dari kepunahan. Sementara itu, survei hiu dan pari yang paling komprehensif mengungkapkan bahwa 37 persen dari 1.200 spesies yang dievaluasi masuk dalam klasifikasi secara langsung terancam punah.

Hiu dan pari juga mengalami ancaman kehilangan habitat dan krisis iklim. Kedua spesies ini juga berkembang biak dengan lambat dan dalam jumlah yang sedikit, sehingga memperlambat pemulihan dibandingkan spesies lain.

Menurut Profesor Nicholas Dulvy dari Simon Fraser University mengatakan bahwa hal tersebut merupakan spesies hewan ketiga yang berisiko daripada tujuh tahun lalu. "Status konservasi kelompok secara keseluruhan terus memburuk dan secara keseluruhan, risiko kepunahan meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan," kata Dulvy, dilansir dari Channel News Asia, Minggu, (5/9/21).

Kondisi Mengkhawatirkan

Ilustrasi Ikan Hiu Gergaji atau Sawfish (dok. Unsplash.com/@davidclode)
Ilustrasi Ikan Hiu Gergaji atau Sawfish (dok. Unsplash.com/@davidclode)

Lima spesies sawfish atau ikan hiu gergaji dan ikan hiu mako sirip pendek termasuk di antara spesies yang paling terancam. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan, sekitar 800 ribu ton hiu ditangkap setiap tahun.

Namun penelitian menunjukkan angka yang sebenarnya, yakni 2--4 kali lebih besar. Sementara itu, dari 138 ribu spesies dalam daftar merah IUCN yang sudah diperbarui, lebih dari 38 ribu terancam punah.

Pembaruan daftar merah dari IUCN juga mengabarkan hasil yang baik. Sebanyak empat dari tujuh spesies tuna yang ditangkap secara komersial, yaitu sirip biru Atlantik, sirip biru selatan, albacore, dan sirip kuning, termasuk dalam kategori pemulihan karena adanya kuota penangkapan ikan dalam sepuluh tahun terakhir. (Gabriella Ajeng Larasati)

Infografis Komodo dan Proyek Jurassic Park

Infografis Komodo dan Proyek Jurassic Park. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Komodo dan Proyek Jurassic Park. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel