Komplikasi Akibat Hipotermia di Gunung, Ketahui Pencegahannya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Melakukan pendakian ke gunung memang sangat mengasyikkan. Apalagi dengan cuaca dingin yang konon terdengar sangat menyejukkan. Meski banyak yang menyebutnya sebagai kegiatan yang aman-aman saja, sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Pada cuaca dingin ekstrem seperti di gunung bisa menyebabkan hipotermia. Parahnya komplikasi akibat hipotermia di gunung bisa terjadi.

Hipotermia merupakan kondisi saat suhu tubuh manusia turun drastis menjadi 35 derajat celcius. Sebuah pertanda buruk, suhu tubuh di bawah 37 derajat celcius bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Komplikasi akibat hipotermia di gunung bisa terjadi dan sebabkan kematian. Pada kondisi ini, sistem saraf dan organ tubuh manusia sudah pasti akan mengalami gangguan.

Hipotermia dan komplikasi akibat hipotermia di gunung bisa menyerang siapa saja. Setiap penderita juga akan mengalami gejala yang berbeda-beda. Mulai dari gejala yang ringan hingga berat bisa menyerang pada kondisi ini. Kulit pucat, mati rasa, menggigil, gangguan bicara, kaku, sulit bergerak, sesak napas, jantung berdebar, dan respon menurun.

Agar bisa lebih mewaspadainya, pahami komplikasi akibat hipotermia di gunung dan cara mencegahnya. Berikut Liputan6.com ulas dari berbagai sumber, Selasa (14/7/2020).

Frostbite

Ilustrasi dingin (iStockphoto)
Ilustrasi dingin (iStockphoto)

Frostbite merupakan salah satu komplikasi akibat hipotermia di gunung yang bisa terjadi. Komplikasi yang menyebabkan cedera pada kulit dan jaringan di bawahnya karena pembekuan. Parahnya, jaringan tubuh yang membeku bisa sampai rusak. Frostbite kerap disebut sebagai radang dingin yang menyerang tangan, kaki, hidung, dan telinga.

Luka yang sangat serius bisa terjadi karenanya dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Meski bisa pulih dalam waktu beberapa minggu, kulit penderita tetap akan rusak. Bahkan, penderita bisa sampai kehilangan kulit, jari, dan kaki serta cacat dan berubah warna.

Gejala sesuai tahapan yang akan dialami penderita:

- Kulit menjadi pucat dan mulai memutih atau berwarna cerah.

- Permukaan kulit Anda mungkin tampak berbintik-bintik, biru, atau ungu.

- Sensasi menyengat, terbakar, dan pembengkakan.

- Bisa sampai muncul lecet dan jaringan mati yang berwarna hitam, biru atau abu-abu gelap.

- Jika sudah sampai jaringan kulit paling bawah, penderita akan mati rasa.

- Sendi atau tubuh tidak aktif lagi.

- Muncul lepuhan besar setelah 24-48 jam dan berubah menjadi hitam dan keras seperti jaringan mati.

Chilblains

Ilustrasi kedinginan | unsplash.com/@andre_furtado
Ilustrasi kedinginan | unsplash.com/@andre_furtado

Chilblains disebut sebagai komplikasi akibat hipotermia di gunung yang bisa terjadi. Kondisi ketika terjadi sebuah peradangan pada pembuluh darah kecil dan saraf kulit manusia. Chilblains akan terasa sangat menyakitkan.

Anggota tubuh yang bisa terpengaruh adalah pada kulit bagian tangan dan kaki. Nama lainnya adalah pernio, perniosis, dan gangguan vaskular. Tanda yang paling kentara, ketika muncul bercak kulit bengkak berwarna merah atau biru mengkilap.

Gejala yang dialami penderita:

- Sensasi terbakar

- Lecet

- Rasa gatal

- Pembuluh darah kecil di dekat permukaan kulit mengencang

- Darah bocor ke jaringan di sekitar dan mengakibatkan pembengkakan

- Iritasi pada saraf dan terasa sangat sakit

Faktor risiko:

- Pakaian sangat ketat dan tipis

- Iklim lembap

- Merokok

- Perempuan

- Kurus

- Memiliki lupus

- Memiliki Raynaud yang bisa munculkan luka sendiri

Trench Foot

Ilustrasi Musim Dingin | unsplash.com/@freestocks
Ilustrasi Musim Dingin | unsplash.com/@freestocks

Trench foot merupakan kondisi ketika terjadi kerusakan pada pembuluh darah dan saraf pada kaki. Selain karena cuaca dingin pengunungan, kondisi ini bisa diakibat karena terlalu lama berendam dalam air. Trench foot termasuk salah satu komplikasi akibat hipotermia di gunung yang harus diwaspadai.

Sebutan lain dari trench foot adalah immersion foot syndrome. Kasus pertama terjadi saat perang dunia pertama. Tepatnya ketika cuaca sangat dingin dan pertempuran terjadi dalam parit dan tidak banyak yang mengenakan kaus kaki bahkan sepatu.

Trench foot kemudian disebut sebagai penyakit kaki parit. Hingga kemudian pada perang dunia pertama ini menewaskan sekitar 2.000 tentara Amerika dan 75.000 tentara Inggris. Tepatnya ketika kaki tentara perang benar-benar selalu basah, dingin, dan tidak mendapat kesempatan kering.

Kaki yang terpapar cuaca yang dingin dan basah berkepanjangan bisa membuatnya kehilangan sirkulasi dan fungsi saraf. Paa kondisi ini biasanya penderita juga akan kekurangan oksigen dan nutrisi dalam darah.

Gejala yang akan dialami penderita:

- Lecet

- Kulit berbintik

- Kemerahan

- Muncul jaringan kulit yang mati yang mengelupas

- Kaki kedinginan

- Kaki terasa berat

- Kaki mati rasa

- Kaki tasa sakit saat terkena panas

- Kaki gatal terus-menerus

- Kaki terasa seperti tertusuk duri dan terasa geli

Gangrene

Ilustrasi musim dingin (Sumber Instagram/@designdetail)
Ilustrasi musim dingin (Sumber Instagram/@designdetail)

Gangrene termasuk salah satu komplikasi akibat hipotermia di gunung. Komplikasi ini bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Kematian jaringan tubuh disebabkan karena kurangnya aliran darah atau infeksi bakteri. Ekstremitas bisa sebabkan jari kaki, jari tangan, otot, organ dalam, dan anggota badan. Kondisi ini bisa menjadi semakin parah akibat diabetes dan aterosklerosis.

Gejala yang dialami penderita:

- Kuliy pucat hingga biru, ungu, hitam, atau merah

- Pembengkakan dan melepuh berisi cairan di kulit

- Kulit rusak

- Kulit mati rasa

- Berbau busuk

- Kulit menjadi tipis, berkilau, dan kehilangan rambut

- Kulit kedinginan atau dingin saat disentuh

- Jaringan bengkak dan sangat nyeri

- Demam ringan dan meriang

- Tekanan darah rendah

- Detak jantung cepat

- Sakit kepala ringan

- Sesak napas

- Kebingungan atau linglung

Cara Mencegah Hipotermia di Gunung

Ilustrasi selimut | Pixabay/Tri Ayu Lutfiani
Ilustrasi selimut | Pixabay/Tri Ayu Lutfiani

Lindungi dari paparan dingin

Perlahan-lahan, pindahkan orang tersebut dari udara dingin. Jika tidak ada rumah yang bisa menghangatkannya, lindungi dirinya dari angin terutama di sekitar leher dan kepala. Isolasi dia paparan tanah yang dingin.

Lepaskan pakaian basah

Lepaskan pakaian basah dengan hati-hati. Gantilah benda basah dengan mantel atau selimut hangat dan kering.

Kompres air hangat

Jika membutuhkan pemanasan lanjutan, lakukan secara bertahap. Misalnya, gunakan kompres hangat dan kering dari pusat tubuh seperti leher, dada, dan selangkangan. Apabila memiliki alat seperti selimut listrik, hal tersebut bisa dipakai.

Apabila Anda menggunakan botol air panas atau pemanas kimia, bungkuslah dengan handuk hangat sebelum menggunakannya.

Berikan minuman hangat

Berikan orang tersebut minuman hangat, manis, dan tidak beralkohol.

Berikan CPR

Berikan Cardiopulmonary Resusication (CPR) seperti teknik kompresi dada atau pernapasan buatan jika orang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti bernapas, batuk, atau gerakan.

Jangan memberikan panas dadakan

Jangan terlalu cepat menghangatkan orang tersebut dengan lampu pemanas atau mandi air panas.

Jangan menghangatkan lengan dan kaki

Jangan mencoba menghangatkan lengan atau kaki. Pemanasan atau memijat anggota badan, ini bisa membuat kerja jantung dan paru- paru menjadi stres.

Jangan gunakan alkohol dan tembakau

Alkohol menghambat proses pemanasan, sementara produk tembakau mengganggu sirkulasi yang dibutuhkan untuk menghangatkan. Jangan gunakan dua benda tersebut.