Kompolnas Desak Pengawas Internal Evaluasi Pemusnahan Petasan Rusak 40 Rumah Warga

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta kepada pengawas internal untuk mengusut insiden rusaknya puluhan rumah akibat pemusnahan barang bukti petasan di Lapangan Tembak Kodim, Bangkalan, Jawa Timur, Minggu (17/4) kemarin.

"Pengawas internal perlu melakukan pemeriksaan dan melakukan evaluasi," kata Komisioner Kompolnas Poengky Indarti kepada merdeka.com, Senin (18/4).

Poengky mengatakan pengusutan itu perlu dilakukan untuk mencegah kejadian ledakan petasan seperti ini terulang kembali. Dia pun menyesalkan jika kelalaian ini harus terjadi

"Agar ke depannya pemusnahan petasan menggunakan cara-cara yang aman. Tidak hanya aman bagi masyarakat sekitar dan rumah mereka, tetapi juga aman bagi lingkungan," ujarnya.

Meski dalam pemusnahan, lanjur Poengky, sudah bekerjasama dengan Tim Gegana Brimob dalam pemusnahan. Tetapi jika ada kesalahan dalam penerapannya, maka seluruh proses harus dievaluasi dan diperbaiki.

"Pasalnya, saya melihat praktik pemusnahan di polres-polres lainnya ada yang menggunakan cara direndam air. Jika akan melakukan pemusnahan dengan dibakar, tentunya jarak lokasi pembakaran sebaiknya di lokasi aman," sebutnya.

Setidaknya, kata dia, area pemusnahan berjarak setidaknya lebih dari 10 km dari lokasi warga dan harus steril untuk antisipasi dari dampak ledakan petasan tersebut.

Poengky pun mengulas kembali kejadian tahun 2017, ketika Polres Kebumen memusnahkan petasan yang berimbas rusaknya puluhan rumah dimana serupa dengan kejadian di Bangkalan.

"Pada waktu itu di Kebuman terjadi ledakan dan merusak puluhan rumah warga dan bahkan ada 1 warga terpaksa dibawa ke rumah sakit akibat kaget mendengar bunyi ledakan petasan," terangnya.

Selain evaluasi dan ganti rugi, Poengky juga mendesak agar Kapolres yang bersangkutan harus segera meminta maaf atas kejadian ini, guna menyelesaikan insiden ini.

"Kapolres harus segera meminta maaf atas terjadinya peristiwa ini dan segera mengganti kerugian yang ditimbulkan. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali," ucapnya.

40 Rumah Rusak

Sebelumnya, Puluhan rumah hancur akibat pemusnahan barang bukti petasan di Lapangan Tembak Kodim, Bangkalan, Jawa Timur. Hal ini dibenarkan oleh Kasihumas Polres Bangkalan Iptu Sucipto.

"Untuk sementara data yang telah masuk itu sekitar 35-40 rumah (rusak). Ada sekitar 40 data yang sudah masuk, dampak itu yang rusak pihak Polres sudah bertanggungjawab, ganti rugi. (Jumlah uang penggantian) Bermacam-macam ya, yang jelas sudah penggantian, akan tetapi bila ada warga yang datang mengaku kerusakan tetap kita akan bertanggungjawab," katanya kepada merdeka.com, Minggu (17/4).

Ia menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (16/4) kemarin. Di mana barang bukti sebanyak 24 ribu petasan dan 100 kilogram bahan peledak petasan dimusnahkan.

Sucipto mengaku tak tahu menahu apabila pemusnahan itu berdampak pada warga. Sebab, Polres Bangkalan menyerahkan sepenuhnya kepada Polda Jawa Timur (Jatim) dalam pemusnahan.

"Kita dari Polres menyerahkan tim yang khusus menangani masalah petasan ke Gegana Brimob Polda Jatim. Kemudian dibawa ke suatu tempat yang memang jaraknya jauh dari pemukiman sekitar 300-400 meteran. Tim khusus itu sudah diurai sedemikian rupa ternyata di luar dugaan, sebagai pelajaran kita. Ini sebetulnya tim Gegana Brimob Polda Jatim yang mengurus itu," ujarnya.

"Jadi untuk penanganan dikembalikan diserahkan yang menangani itu bukan kita, jadi itu tim Polda Jatim kita enggak tahu," jawab Sucipto saat ditanyakan alasan diledakkan bukan disiram dengan air.

Lebih lanjut dia menyampaikan, kalau kejadian itu menjadi pelajaran. Bahkan aksi pemusnahan itu tidak diketahui oleh warga.

"Ya ini sebagai pelajaran buat kita, karena bahan itu petasan itu berbahaya dan itu sudah diserahkan ke tim. Itu pun jauh dari pemukiman loh," katanya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel