Kompolnas ke Bareskrim Terkait Pengaduan Aiptu LS

Jakarta (ANTARA) - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Senin, mendatangi Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, terkait pengaduan anggota kepolisian yang diduga memiliki rekening gendut, Aiptu Labora Sitorus (LS).

"Kita akan koordinasi saja dengan Bareskrim tentang beberapa hal. Kami datang ke sini untuk meminta penjelasan atau keterangan tentang penanganan kasus LS," kata Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrahman sesaat sebelum memasuki kantor Bareskrim Polri, Jakarta.

Hamidah menjelaskan beberapa hal yang perlu diklarifikasi antara lain adalah bisnis LS, dugaan aliran uang ke sejumlah petinggi kepolisian serta laporan LS kepada Kompolnas Sabtu (18/5) lalu.

Dia menuturkan lembaga pengawas kepolisian itu akan mengklarifikasi mengenai pernyataan LS bahwa bisnisnya legal. Sementara Polri, di sisi lain, sudah mengantongi bukti permulaan yang cukup untuk menyatakan LS sebagai tersangka.

"Sehingga kami perlu meminta penjelasan dari Kabareskrim tentang hal tersebut," katanya.

Hamidah juga mengatakan, laporan LS kepada Kompolnas akan menjadi materi yang akan disampaikan kepada Bareskrim Polri. Laporan itu termasuk aliran dana yang dikabarkan juga mengalir kepada sejumlah petinggi kepolisian di Papua.

"Secara khusus dia tidak menyebutkan nama dan juga hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut," katanya.

Komisioner Kompolnas lainnya, Edi Saputra Hasibuan, memastikan memang ada informasi demikian. Akan tetapi, kebenarannya harus dibuktikan. Oleh sebab itu, kedatangan Kompolnas siang itu juga bertujuan untuk mengklarifikasi masalah tersebut.

"Kami ingin proses hukum terhadap LS dan juga siapapun yang terkait dalam kasus ini harus bisa dilakukan secara profesional," katanya.

Tiga komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurrahman, Edi Saputra Hasibuan dan Logan Siagian mendatangi Bareskrim Polri sekitar pukul 13.30 WIB.

LS ditangkap di kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jalan Tirtayasa, Jakarta Selatan, Sabtu (18/5) sekitar pukul 20.00 WIB oleh tim penyidik Bareskrim bersama Polda Papua. Penangkapan itu persis dilakukan di depan kantor Kompolnas tepat seusai LS melaporkan kasusnya kepada lembaga itu.

Dia telah dinyatakan sebagai tersangka dalam bisnis penimbunan BBM dan pembalakan liar. Setelah dua hari ditahan di Rutan Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (20/5) pagi LS diberangkatkan kembali ke Papua guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Anggota kepolisian yang bertugas di Polres Raja Ampat itu dilaporkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memiliki rekening gendut lantaran transaksi di rekeningnya mencapai Rp1,5 triliun.

Dia juga dipersangkakan dengan pasal 3, pasal 4 dan atau pasal 5 dan atau pasal 6 Undang-Undang Nomor 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan atau pasal 78 ayat 5 dan 7 jo pasal 50 ayat 3 huruf f dan h Undang-undang Nomor 41/1999 Tentang Kehutanan yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19/2004 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1/2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41/1999 Tentang Kehutanan.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.