Komunikasi Lancar, Tapering The Fed Tak Berdampak Besar ke Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia tahan dengan risiko kebijakan tapering The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS. Dampak tapering ini diperkirakan akan lebih rendah dari kebijakan yang pernah dijalankan juga pada 2013.

"Dampaknya kepada Indonesia dari rencana tapering The Fed ini jauh lebih rendah dari tahun 2013 atau bahkan beberapa episode sebelumnya," kata Perry dalam Konferensi Pers KSSK Triwulan III, Jakarta, Rabu (27/10/2021).

Dampak kebijakan The Fed bisa diantisipasi karena ada kejelasan komunikasi dari The Fed secara terus-menerus. Sehingga kabar tersebut direspons pasar dengan melakukan antisipasi yang baik dalam bentuk volatility dan treasury untuk beberapa waktu ke depan.

Perry memandang kebijakan tapering yang dilakukan The Fed akan berlangsung secara bertahap. Dimulai dari pengurangan penambahan likuiditas yang selama ini terus ditambah. Pengurangan ini pun dilakukan secara bertahap dan lebih tertata. Dia memperkirakan The Fed baru akan melakukan pengurangan likuiditas pada kuartal III tahun 2022 atau di pada kuartal selanjutnya.

"Pengurangan likuiditas dilakukan sepanjang tahun 2022 dan kemungkinan di kuartal II atau triwulan berikutnya. Ini yang perlu dipantau, dan ini mungkin akan terjadi lebih awal," kata dia.

Faktor lain yang membuat ekonomi Indonesia tidak terpengaruh kebijakan The Fed karena defisit transaksi berjalan berada di posisi terendah. Hal ini menunjukkan seberapa besar suplai penawaran dan permintaan devisa pada nilai tukar

"Kalau Fed tapering ini dulu lebih dari 3,5 persen (defisit transaksi berjalan), kalau sekarang ini 0 persen sampai - 0,8 persen dan tahun depan lebih rendah. Jadi tekanan ini jauh lebih rendah," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Stabilitas Sistem Keuangan

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, kata Peryy saat ini koordinasi yang dilakukan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah terjalin dengan baik. Sehingga stabilitas tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah saja, melainkan juga pada yield yang dilakukan secara baik

Di sisi lain cadangan devisa negara juga tercatat USD 146,87 miliar, jumlah yang setara dengan 8,9 bulan impor barang dan jasa. Sehingga dia menyimpulkan, dampak dari tapering yang dilakukan The Fed tidak terlalu signifikan namun tetap harus diwaspadai dan diantisipasi.

"Ini pembahasan di BI dan didalam KSSK. Kesimpulannya kita waspada, monitor, dan antisipas dengan baik tapi kalau dibandingkan dengan Fed taper (sebelumnya) ini lebih baik," kata dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel