Komunikasi Penggiat Anti Narkoba

Dian Lestari Ningsih, subhanzizou-846
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mulai dari bangun tidur, bekerja, kembali ke rumah dan kembali tidur, kehidupan kita tidak terlepas dari komunikasi dalam hal ini tentu melibatkan dua atau lebih individu karena manusia adalah makhluk sosial.

Salah seorang ahli Kenneth E. Andreson menyatakan, bahwa komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu, komunikasi tersebut terjadi dimana komunikasi menggunakan simbol untuk memengaruhi pikiran sipenerima dapat merubah perilaku dan perbuatan audiens.

Penggiat sebelum melaksanakan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba haruslah mempersiapkan dan menguasai materi dan alat penunjang kelengkapan acara.

Mulai dari bangun tidur, bekerja, kembali kerumah dan kembali tidur, kehidupan kita tidak terlepas dari komunikasi dalam hal ini tentu melibatkan dua atau lebih individu karena manusia adalah makhluk sosial.

Salah seorang ahli Kenneth E. Andreson menyatakan bahwa komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu, komunikasi tersebut terjadi dimana komunikasi menggunakan simbol untuk memengaruhi pikiran sipenerima dapat merubah perilaku dan perbuatan audiens.

Penggiat sebelum melaksanakan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba haruslah mempersiapkan dan menguasai materi dan alat penunjang kelengkapan acara.

Di dalam komunikasi verbal hendaknya penggiat menghindari kata-kata atau bahasa serta tulisan yang dapat menimbulkan konflik seperti merendahkan atau mengejek audiens atau oranglain. Selanjutnya komunikasi non verbal dalam hal ini isyarat - isyarat sangat signifikan dibandingkan bahasa.

Penggiat harus terlebih dahulu memahami karakteristik audiens, contoh tingkat pendidikan, sosial budaya, bahasa yang digunakan. Pengalaman dan pengamatan penulis, banyak para audiens yang tidak nyaman dan bahkan meninggalkan ruangan karena tidak tertarik lagi mengikuti kegiatan tersebut.

Hal tersebut dikarenakan materi yang disajikan tidak menarik, media pendukung tidak dilengkapi seperti laptop, browser, pengeras suara, penampilan Penggiat tidak rapi, raut wajah tidak bersahabat, yang berakibat tidak tersampaikan pesan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba tersebut sudah pasti tidak dapat memengaruhi sikap, perilaku dari audiens.

Karena tujuan dari komunikasi persuasif adalah dapat memengaruhi sikap (attitude change), perubahan pendapat (opinion change), perubahan perilaku (behavior change), perubahan sosial (sosial change).

Penulis sering mengamati dan berkomunikasi kepada komunitas yang memang hampir semuanya di kalangan usia yang produktif, memiliki pendidikan yang tinggi dan mengetahui, mengerti tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Seperti contoh katakan Si A tahu (kognitif) kalau narkoba berbahaya dan Si A tidak suka terhadap penyalahgunaan narkoba, namun Si A sering menggunakan narkoba itu sendiri.

Hal sedemikian yang menjadi permasalahan yang begitu banyak dijumpai di Indonesia, harus dengan cermat dan teliti selaku penggiat untuk selalu menjalin komunikasi persuasif yang salah satu nya dengan cara memotivasi.

Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) sangat penting, baik dalam kehidupan pribadi maupun karir termasuk Penggiat Anti Narkoba dalam Pengembangan Kapasitas keterampilan, tidak hanya dengan memberikan data informasi perkembangan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Tetapi harus dibekali dengan keterampilan komunikasi / berbicara di depan umum untuk mengemas dan menyajikan kembali ke audiens atau masyarakat. Bahkan tidaklah begitu sulit ketika para Penggiat Anti Narkoba selalu mengasah kemampuan dan mengembangkan serta update perkembangan terbaru bidang public speaking.