Kondisi 1 Korban Tragedi Kanjuruhan di ICU RSSA: Sadar Tapi Butuh Alat Bantu

Merdeka.com - Merdeka.com - Satu orang pasien korban peristiwa Tragedi Kanjuruhan Malang masih menjalani perawatan intensif di ICU Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Sementara pasien lainnya sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.

"Satu pasien yang masih dirawat intensif di ICU. Pasien tersebut berjenis kelamin perempuan. Kondisinya stabil tetapi memang membutuhkan alat bantu," ungkap Dony Iryan, Humas RSSA Malang, Senin (31/10).

Pasien tersebut, lanjut Dony, dalam kondisi sadar setelah menjalani masa perawatan. Tetapi kondisi kesadarannya tersebut masih belum sepenuhnya sempurna.

"Kondisinya sadar, tetapi tidak stabil, terkadang sadar dan kadang tidur, tetapi kondisinya membaik," tambahnya.

Sebelumnya, RSSA telah memulangkan pasien atas nama Muhammad Afrizal (10).

Pasien tersebut diperbolehkan pulang pada Rabu (26/10) setelah menjalani perawatan selama 24 Hari. Afrizal menjalani perawatan jalan dan teraphi agar dapat kembali berjalan normal.

"Kita berharap pasien terakhir ini segera sembuh dan bisa pulang. Kita berikan yang terbaik, dokter terbaik, kita berdoa semoga segera mendapatkan kesembuhan dan segera berkumpul kembali bersama keluarga," urainya.

Tanggapi Pengaduan

Dony Iryan juga menanggapi terkait pengaduan keluarga salah satu korban yang mengaku tidak puas atas pelayanan RSSA. Pihaknya mengaku telah memberikan pelayanan terbaik kepada para korban Tragedi Kanjuruhan.

"Kami sudah semaksimal mungkin untuk melayani pasien terutama pasien Tragedi Kanjuruhan ini. Pasien tersebut sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium, foto thorax, ada CT scan segala,. Jadi kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Kalau masalah medis, dan obat apa itu sudah diberikan itu ranah profesional medis, insya Allah sudah yang terbaik untuk pasien, terutama pasien tragedi Kanjuruhan ini," urainya.

Sebelumnya, Eko Karyadi (56), keluarga korban atas nama Johan Adam menyampaikan unek-uneknya saat bertemu Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini. Keluarga merasa mendapatkan pelayanan kurang maksimal terkait dokter, obat-obatan dan pelayanan.

Keluarga mengaku kalau dokter yang merawat korban bukan dokter ahli, sehingga dirasa tidak memuaskan. Obat yang diberikan juga dianggap tidak memuaskan, karena hanya paracetamol dan Necitin untuk gangguan syaraf cucunya tersebut.

Dony menegaskan bahwa kesimpulan medis korban atas nama Johan Adam telah diizinkan pulang oleh dokter penanggung jawab klinis. Pasien kalau sudah dinyatakan sehat harus segara dipulangkan dan menjalani rawat jalan.

Sementara terkait tenaga dokter, memang di RSSA memiliki perawat dan dokter sesuai dengan peran masing-masing. Tetapi terkait dokter muda, selalu di bawah dampingan dokter senior atau dokter ahli.

"Kami akan mencoba komunikasi dengan keluarga, ini masih kita cari keluarganya. Kita mau dapatkan keluhan apa yang mereka rasakan dan nanti akan menjadi evaluasi kita," tegasnya. [ded]