Kondisi aktivis Mesir yang dipenjara dilaporkan memburuk

Kairo (AP) - Polisi pada Kamis (12/2) memindahkan seorang aktivis Mesir, yang ditangkap saat tiba di bandara Kairo dari Italia, ke sebuah fasilitas penahanan yang “kurang baik", kata sebuah kelompok pembela hak asasi manusia setempat, persis ketika orang tuanya muncul saat jam kunjungan.

Petugas menangkap Patrick George Zaki, 28 tahun, seorang pegiat HAM dan mahasiswa Universitas Bologna di Italia, setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat di Kairo. Zaki tiba di Kairo untuk berkunjung singkat ke kota asalnya.

Ketika orang tua Zaki tiba di kantor polisi untuk melihat keadaan putra mereka, polisi mengarahkan orang tuanya ke tempat penahanan lain yang lebih padat, yang jaraknya cukup singkat ditempuh dengan mobil. Saat mereka menemukan Zaki, mereka hanya punya waktu satu menit sebelum jam kunjungan berakhir, kata pengacaranya.

Setelah Zaki tiba bandara internasional Kairo pada Jumat subuh, petugas keamanan negara menahan dia selama hampir 30 jam tanpa bisa berkomunikasi dengan pihak luar, menurut Egyptian Initiative for Personal Rights. Egyptian Initiative pernah mempekerjakan Zaki sebagai peneliti hak gender dan sekarang kelompok tersebut mewakili dia.

Zaki mengatakan kepada pengacaranya bahwa, selama berada dalam penahanan, ia ditutup matanya, dipukuli dan disiksa dengan kejutan listrik sambil diinterogasi soal tindak tanduknya sebagai aktivis. Kementerian Dalam Negeri Mesir belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Sehari setelah tiba di Mesir, Zaki muncul di kantor kejaksaan di kota asalnya, Mansoura, sekitar 130 kilometer utara Kairo. Ia menghadapi tuduhan menyebarkan berita palsu dan menggalang aksi protes tanpa izin. Kementerian Dalam Negeri mengatakan kejaksaan memerintahkan Zaki menjalani penahanan prasidang selama 15 hari. Perintah itu memicu kekhawatiran di kalangan aktivis hak asasi manusia, yang memperingatkan bahwa ada kecenderungan jaksa penuntut Mesir akan memperbarui masa penahanan itu tanpa batas waktu.

Undang-undang yang diberlakukan Mesir baru-baru ini memperluas definisi terorisme untuk memasukkan semua penentang politik. UU itu memberi jaksa penuntut wewenang luas untuk menahan orang selama berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun, tanpa pernah mengajukan tuntutan atau menghadirkan bukti.

Mesir melarang semua aksi protes tanpa izin pada 2013, beberapa bulan setelah Presiden Abdel Fattah el-Sissi, yang saat itu menjabat menteri pertahanan, memimpin militer menggulingkan presiden pertama yang dipilih secara demokratis tetapi memecah belah masyarakat, Mohamed Morsi.

Tindakan terhadap Zaki itu adalah yang terbaru dalam tindakan keras el-Sissi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap oposisi. Pemerintah telah menangkap ribuan orang, baik kalangan aktivis berhaluan sekuler maupun Islamis, serta mementahkan kebebasan yang dicapai setelah pemberontakan 2011.

Kasus tersebut sangat mengguncang Italia, negara tempat Zaki menempuh pendidikan jenjang master dalam Studi Gender dan Perempuan. Kejadian yang menimpa Zaki itu mengorek kenangan menyakitkan tentang peneliti Italia berusia 28 tahun yang hilang, Giulio Regeni.

Jasad Regeni yang babak belur ditemukan di pinggir jalan di daerah pinggiran Kairo pada 2016. Jaksa penuntut umum Italia telah menjalankan penyelidikan terhadap beberapa polisi Mesir dan anggota dinas rahasia sehubungan dengan penyiksaan dan pembunuhan yang dialami Regeni.

Kematiannya tetap menjadi sumber ketegangan yang memanas antara kedua negara. Kemarahan atas penahanan Zaki telah menyebar secara daring, melalui tagar #FreePatrick, dan tumpah ke jalan-jalan di Bologna. Di kota itu, ratusan orang ikut berunjuk rasa minggu ini untuk meminta pembebasan Zaki.

Ketua Parlemen Eropa David pada Rabu Sassoli mengutuk penahanan Zaki dan mendesak Mesir untuk membebaskannya.

Pengadilan banding negara pada Sabtu akan mempertimbangkan keabsahan penahanan Zaki, menurut EIPR.

"Kami bahkan tidak tahu kapan atau bagaimana mimpi buruk ini akan berakhir," kata keluarga Zaki dalam sebuah pernyataan.