Kondisi Geografis Indonesia Tak Stabil, Nuklir Jadi Opsi Terakhir Sumber Energi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - enulis Laporan dan Analisis Keuangan Energi International Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Elrika Hamdi mengatakan, apabila Indonesia tetap memutuskan masuk ke energi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), maka Safety dan safeguard harus sangat diperhatikan.

Adapun hal tersebut perlu dilakukan karena Indonesia memiliki kondisi geografi dan geologi yang cukup mengkhawatirkan yang berada di jalur ring of fire, gunung api aktif, tsunami, gempa, serta banjir.

“Dengan kondisi yang tidak stabil ini Indonesia harus bisa memperkirakan apakah nantinya bisa di temukan tempat untuk membuang atau menyimpan limbah nuklir di tengah-tengah kondisi geologi Indonesia saat ini,” jelas Elrika melalui siaran virtual, pada Rabu (2/6/2021).

Kemudian berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya belum ada negara yang menemukan solusi yang berjalan dan ekonomis untuk bisa membuang limbah nuklir secara permanen.

Selain itu, permasalahan lain yang muncul terkait tenaga nuklir, yaitu keandalan teknologi, faktor keamanan dan perlindungan keselamatan prospek decommissioning, ketersediaan bahan bakar, keterjangkauan biaya dan risiko pembengkakan biaya yang sering terjadi, serta biaya penutupan pembangkit nuklir yang sering terabaikan.

Berdasarkan beberapa penelitian terkait nuklir, 97 persen dari proyek menunjukkan 175 dari 180 pembangkit listrik tenaga nuklir melebihi anggaran awal proyek. Dengan pembengkakan biaya rata-rata mencapai 1,3 miliar dollar per proyek. Serta waktu konstruksi menjadi 64 persen lebih lama dari perkiraan semula.

“Masalah biaya akhir yang tidak terukur ini mempersulit penilaian atas klaim kelayakan pasar tenaga nuklir di Indonesia, terutama bila mempertimbangkan pasar tenaga listrik Indonesia yang sensitif terhadap harga. Buktinya, banyak dari negara-negara pengguna tenaga nuklir telah berputar haluan dari komitmen untuk membangun pembangkit nuklir baru, dan memilih kombinasi energi terbarukan dan storage yang lebih fleksibel karena opsi ini lebih ekonomis bagi sektor ketenagalistrikan,” jelasnya.

Pilihan Terakhir

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Novovoronezh adalah pembangkit pertama di dunia yang memiliki fasilitas reaktor water cooled dan water-moderated di dunia, yang terletak di Kota Boronez, Rusia. (Liputan6.com/Nurmayanti)
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Novovoronezh adalah pembangkit pertama di dunia yang memiliki fasilitas reaktor water cooled dan water-moderated di dunia, yang terletak di Kota Boronez, Rusia. (Liputan6.com/Nurmayanti)

Sementara itu, Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Muhammad Subekti mengatakan, nuklir merupakan energi yang menjadi pilihan terakhir yang digunakan sebagai pemanfaatan sumber energi.

Adapun hal itu terlihat dari banyaknya fakta yang telah terlihat dari sisi harga dan keandalan. Serta dari faktor-faktor teknis yang belum dapat ditangani, yaitu keselamatan, dan bahan bakar yang akan digunakan.

“Kenapa disebutkan bahwa pilihan terakhir, tentu memperhitungkan bila kondisi masa depan sulit sekali pilihan-pilihan solar cell ingin di kembangkan sudah banyak sekali potensinya baik di rooftop, kemudian berbagai hal usaha secara nasional dilakukan itu ada kebutuhan yang jumlahnya atau pengurangan energi dari sisi lain,” ujarnya.

Reporter: Anisa Aulia

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: