Kondisi Sinabung Makin Mengkhawatirkan

TRIBUNNEWS.COM, KARO - Kondisi Gunung Sinabung di Sumatera Utara kian hari semakin mengkhawatirkan. Terutama bagi masyarakat yang menghuni desa di sekitar lereng gunung yang terletak di Kabupaten Tanah Karo ini.

Aktivitasnya terdeteksi terus meningkat sehingga mengancam ternak dan lahan pertanian setempat. Kepala Tim Pemantau dan Penyelidikan Gunung Sinabung, I Gede Suwantika, mengungkapkan kondisi ini masih akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Erupsi yang intens terjadi belakangan ini merupakan bentuk pembebasan energi vulkanik yang terjadi di dalam perut Sinabung.

"Ya, sulit diprediksi. Beginilah tanda gunung api aktif. Aktivitasnya berlangsung lama. Laharnya tidak keluar sekaligus. Seperti sekarang ini erupsinya terus menerus dan muntahan material di dalamnya pun keluar sedikit demi sedikit," kata Suwantika, Sabtu (11/1/2014).

Menurutnya, letusan yang terjadi berangsur-angsur ini lebih mengecilkan risiko besar yang diakibatkan Sinabung. Sebab, kata dia, jika terjadi letusan besar dengan muntahan material dan lahar sekaligus, maka akan lebih merepotkan.

"Dampaknya pun bisa lebih buruk dari sekarang ini. Itu sebabnya kita semuanya harus tetap siaga," katanya.

Gunung yang pertama kali meletus pada September 2013 lalu itu sampai saat ini masih terus memuntahkan debu vulkanik, awan panas, dan lahar panas yang mengancam keselamatan mahluk hidup di sekitarnya. Sebelumnya, ini juga terjadi pada 2010. Padahal, Sinabung sempat dinyatakan tidak aktif selama 1.600 tahun lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan, meski gempa hibrid sebagai indikator pembentukan kubah lava mengalami penurunan, kemarin, gempa vulkanik dalam justru meningkat. Tremor masih terus-menerus sehingga diprediksi gunung yang berada di Kabupaten Tanah Karo ini masih akan terus meletus.

"Status Awas (level IV) masih ditetapkan dengan radius 5 km dan 7 km di sisi tenggara selatan harus kosong dari penduduk," kata Sutopo, kemarin.
Terjadi erupsi beberapa kali dengan tinggi 1-5 km disertai luncuran awan panas ke tenggara- selatan 1-4,5 km dan ke timur 1 km. Beberapa rumah di Desa Kutarakyat dan Namanteran rusak karena hujan pasir dan abu vulkanik 5-10 cm.

Debu vulkanik tebal 5-10 cm menjadi lumpur terkena hujan. Ribuan hektar lahan pertanian dan perkebunan di Karo rusak. Hujan abu hingga Medan dan sekitarnya karena terbawa angin ke timur.

Awan panas sudah masuk ke sungai di barat Berastepu sehingga timbul letusan sekunder karena kontak material panas dan air sungai. Tidak ada korban jiwa dari dampak langsung erupsi Sinabung.

Jumlah pengungsi terus bertambah. Pada Sabtu sore, ada 25.516 jiwa atau 7.898 kepala keluarga tersebar di 38 titik. Logistik mencukupi 2-7 hari ke depan. Beberapa titik pengungsian baru masih perlu tambahan logistik dan sarana. Belum bisa dipastikan hingga kapan harus terus di pengungsian. TRIBUN MEDAN

Baca Juga:

Pengacara: Buka-bukaan Anas soal Ibas Tergantung Penyidik KPK

Lelaki 69 Tahun Meninggal Saat Jual Kemoceng di Bus

Buku Karya Tan Malaka Merdeka 100%, Gagal Dikirim ke Anas

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.