Konektivitas destinasi wisata di kawasan taman pesisir Teluk Berau

Pariwisata adalah sektor unggulan bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang mendiami kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.

Masyarakat setempat membuat jalur wisata yang terkoneksi antar destinasi satu dengan destinasi lain guna menikmati keindahan alam dari hutan hingga laut untuk ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau Fakfak.

Jalur wisata taman pesisir Teluk Berau yang dibuat oleh masyarakat setempat meningkatkan keindahan laut yang mempesona, menelusuri hutan mangrove (bakau), menulis kampung-kampung adat kisah para leluhur masyarakat Fakfak hingga berakhir menikmati sensasi air terjun mistis yang diyakini masyarakat setempat bisa menyembuhkan penyakit.

Keindahan pantai taman pesisir Teluk Berau Fakfak begitu menawan apalagi suasana pada sore hari menikmati senja tak jauh berbeda dengan senja di Kaimana. Keindahan bawah laut juga mempesona bagi para penyelam karena ekosistem terumbu karangnya bagus dan banyak iklan.

Pesisir yang eksotis dengan rimbun labirin mangrove pada permukaan airnya yang tenang menjadi pemandangan indah bagi para pelancong untuk mengabadikan momen perjalanannya.

Pada kawasan tersebut juga terdapat cerita sejarah leluhur masyarakat setempat ditandai dengan bangunan masjid tua yang dibangun pada awal abad 18.

Air terjun indah yang diyakini memiliki khasiat mistis untuk penyembuhan berbagai penyakit. Air terjun tersebut adalah destinasi unggulan yang banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke taman pesisir Teluk Berau.

Baca juga: Pokmaswas Nusa Matan patroli jaga taman pesisir Teluk Berau

Sediakan fasilitas

Destinasi wisata alam dan sejarah tersebut berada pada lima kampung Distrik Kokas yakni Kampung Ubadari, Kampung Batufiafas, Kampung Kiminakra, Kampung Mandoni, Kampung Patimburak, dan Kampung Kaburbur. Lima kampung tersebut berada dalam kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau Kabupaten Fakfak.

Menelusuri jalur wisata tersebut bagi masyarakat setempat lebih cocok berawal dari Kampung Ubadari menggunakan perahu mesin mengelilingi seluruh destinasi hingga kembali ke Kampung Ubadari. Sebab akses transportasi darat dari kampung tersebut menuju ke ibukota kabupaten Fakfak lancar.

Kepala Kampung Mandoni, Jaelani Tigtigweria di Fakfak, Ahad, mengatakan bahwa jalur wisata tersebut selama ini menjadi jalur mobilitas masyarakat setempat dari satu kampung ke kampung yang lain.

Namun, baru terpikirkan bahwa jalur tersebut adalah jalur wisata sangat eksotis dengan keindahan alam yang mempesona dari hutan hingga laut. Serta cerita sejarah leluhur yang merupakan aktris wisata bagi para pelancong pencinta budaya Indonesia.

"Terlebih salah satu masjid tertua di Kabupaten Fakfak dan juga gua-gua bersejarah pada masa kerajaan Fakfak tempat masyarakat terdahulu dan beristirahat," ujarnya.

Pemandangan alam di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat yakni Senja di Pulau Ugar, Suasana Air Terjun. (Antara/ Ernes Broning Kakisina)
Pemandangan alam di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat yakni Senja di Pulau Ugar, Suasana Air Terjun. (Antara/ Ernes Broning Kakisina)

Menurut dia, masyarakat setempat menyambut baik niat pemerintah daerah yang didukung oleh Konservasi Indonesia dan Himpunan Pramuwisata Indonesia untuk memperkenalkan jalur wisata tersebut ke tingkat Nasional bahkan Internasional.

"Intinya kami siap mendukung pemerintah untuk pengembangan pariwisata. Masyarakat sudah siap jika mendukung pembangunan homestay atau tempat singgah untuk wisatawan yang datang,” katanya.

Baca juga: Kampung Meosmanggara Raja Ampat kembangkan wisata spesies

Bersatu memajukan

Guna pengembangan sektor pariwisata di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau terutama jalur wisata air terjun Ubadari, Dinas Pariwisata Fakfak membentuk pondok-pondok atau gazebo tempat bersantai untuk pengunjung yang datang melepas kejenuhan.

Pemerintah juga membentuk kelompok sadar wisata atau Pokdarwis Ubadari untuk secara mandiri menjaga dan memastikan kebersihan jalur wisata air terjun tersebut sejak awal 2020.

Ketua Pokdarwis Ubadari, Husein Iha menjelaskan kawasan wisata di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau tersebut sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik. Terutama kawasan air terjun Ubadari sangat ramai pengunjung.

Sebab menjangkau objek wisata tersebut melewati jalur darat dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua dari ibukota kabupaten Fakfak selama satu jam perjalanan.

Pengelolaan pariwisata di kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau mendapat dukungan dari Yayasan Konservasi Indonesia. Terutama dorongan untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Yayasan Konservasi Indonesia Direktur Program Papua Barat, Meity Mongdong mengatakan bahwa sebuah jalur wisata akan berfungsi baik jika semua komponen pariwisata bersatu padu dalam hubungan yang harmonis baik atraksi wisata, regulasi dan kebijakan yang mendukung.

Selain itu, informasi dan data pendukung serta analisa para ahli dan juga sumber daya manusia yang beraktivitas dan akan memanfaatkan objek wisata.

Baca juga: Menparekraf: Hindari Raja Ampat jadi wisata massal

Nilai tambah

Dia berharap lembaga-lembaga sosial yang bergerak dalam hal konservasi khususnya dalam topik pemanfaatan dan pengelolaan pariwisata berkelanjutan harus menempatkan masyarakat lokal sebagai poin penting atau ujung tombak program kerja.

Masyarakat bukan sekedar menjaga alam dan lingkungannya tapi juga mampu memanfaatkan potensi alam itu untuk meningkatkan ekonomi keluarga melalui jasa pariwisata. Karena alam yang indah pada sektor pariwisata akan mendatangkan penghasilan.

Menurut dia, potensi alam Fakfak untuk pariwisata sangat menjanjikan dan tentunya akan mendatangkan penghasilan besar bagi masyarakat sehingga mereka tidak perlu lagi menangkap ikan dengan alat-alat yang merusak.

Sektor pariwisata merupakan nilai tambah bagi masyarakat di wilayah kawasan konservasi taman pesisir Teluk Berau sehingga Yayasan Konservasi Indonesia memberikan dukungan bagi masyarakat setempat dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

Mereka telah merencanakan sejumlah program peningkatan kapasitas bagi pemuda dan masyarakat setempat agar sektor pariwisata terus dikembangkan sehingga dirasakan manfaatnya hingga generasi di masa yang akan datang.*

Baca juga: Pemerintah pusat anggarkan Rp45 miliar bangun wisata mangrove Sorong

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel