Konektivitas transportasi terintegrasi kurangi kesenjangan di 3TP

Konektivitas transportasi di Indonesia yang terintegrasi baik darat, laut dan udara, dalam rangka melancarkan mobilitas dan distribusi logistik, serta mengurangi kesenjangan ekonomi khususnya di wilayah Terdepan, Terpencil, Terluar dan Perbatasan (3TP).

"Konektivitas transportasi sangat dibutuhkan guna menjamin kelancaran lalu lintas orang maupun barang antarwilayah," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Denon Prawiraatmadja dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Saat berbicara dalam Webinar Merajut Konektifitas Transportasi Intermoda dan Peningkatan Daya Saing Industri yang merupakan kegiatan INACA Festival 2022 dalam rangka menyambut HUT ke-52 INACA, dia mengatakan jika ini bisa dilakukan secara maksimal, diharapkan industri transportasi domestik akan semakin bergairah dan juga mampu mendongkrak perekonomian khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) di seluruh pelosok Indonesia.

Sekaligus juga untuk mendukung sektor pariwisata khususnya menggarap potensi wisnu (wisatawan nusantara/domestik) yang jumlahnya sangat signifikan yaitu sekitar 500 juta orang (secara nilai sekitar Rp500 miliar per tahun.

Ia juga menambahkan bahwa untuk lebih memperkuat konektivitas, untuk sektor penerbangan masih perlu dikembangkan penerbangan perintis/ antardaerah, pengoperasian sea plane dan pengembangan general aviation.

Denon yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan, mengatakan diperlukan juga pengembangan angkutan laut melalui pelayaran rakyat (Pelra) untuk mengisi kebutuhan angkutan laut non peti kemas, armada keperintisan, dan armada perdagangan tradisional yang menjangkau daerah-daerah terpencil. Melalui peningkatan konektivitas antarmoda di atas, pemulihan ekonomi Indonesia segera dapat tercipta," katanya.

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Nur Isnin Istiarto mengatakan industri penerbangan sebagai moda transportasi memilik arti sangat penting dan strategis untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di negara kepulauan seperti Indonesia.

Terlebih lagi operator penerbangan saat ini menemukan momentum pemulihan bisnisnya usai COVID-19. Pada Juni 2022 lalu lintas penerbangan domestik maupun internasional sudah mencapai rata-rata 70 persen jika dibandingkan masa saat pandemi tahun lalu lalu.

"Berdasarkan data dari Asosiasi Perusahaan Penerbangan Internasional/IATA, lalu lintas domestik mencapai kenaikan sebanyak 81 persen dan lalu lintas penerbangan internasional mencapai 65 persen," kata Isnin. Data kenaikan tersebut merupakan peluang bagi maskapai untuk memajukan industri penerbangan kembali dengan syarat meningkatkan pelayanan dan bisa menangkap peluang pasar yang ada.

Untuk meraih peluang tersebut, kata Isnin, seluruh operator di Indonesia harus menyiapkan sejumlah strategi sebagai langkah antisipasi dalam masa transisi setelah pandemi, yakni dengan meningkatkan kolaborasi dan elaborasi bersama para pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan melalui pengembangan bisnis.

Ketua Umum Kadin Indonesia, M. Arsjad Rasjid mengatakan ada tiga hal yang membuat konektivitas intermoda menjadi sangat krusial, pertama adalah efisiensi waktu. Di mana waktu sangat diutamakan bagi wisatawan agar sampai di tempat tujuan, selain itu kecepatan diperlukan untuk rantai pasok pengiriman logistik.

Kedua adalah biaya, jika biasa transportasi rendah maka biaya logistik akan dapat bisa di tekan sehingga Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Ketiga adalah aksesibilitas, dengan lancarnya pengirim melalui rute dan jalur yang telah dibuat maka rantai pasok logistik akan semakin mudah.

"Jika tiga hal tersebut bisa kita atasi maka kami yakin maka kegiatan ekspor dan impor di Tanah Air menjadi mudah sehingga dapat membantu usaha UMKM di Tanah Air bisa bersaing di pasar global," katanya.

Baca juga: INACA nilai FIR langkah maju penerbangan nasional
Baca juga: INACA berupaya bangkitkan sektor penerbangan nasional
Baca juga: INACA-Boeing kerja sama bangkitkan penerbangan nasional