AS Konfirmasi Kasus Pertama Varian Baru Virus Corona

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Amerika Serikat mengumumkan kasus pertama varian baru virus corona sangat menular yang pertama kali ditemukan di Inggris. Kasus tersebut ditemukan di Colorado, Gubernur Jared Polls mengumumkan pada hari Selasa (29/12).

Poll mengatakan bahwa pejabat kesehatan negara bagian telah mengonfirmasi seorang pria berusia 20-an yang tinggal di dekat Denver telah terinfeksi varian baru virus corona ini. Pria tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan dan sekarang tengah diisolasi.

Menanggapi temuan ini, Trevor Bedford, peneliti yang mempelajari penyebaran COVID-19 di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle mengatakan kemungkinan varian baru virus corona tersebut berasal dari wisatawan Inggris yang masuk ke AS pada November atau Desember ini.

"Sekarang saya khawatir akan ada gelombang musim semi lagi karena varian baru ini,'' kata Bedford. "Kami berlomba dengan vaksin, namun sekarang virus menjadi sedikit lebih cepat merebak."

Pejabat kesehatan masyarakat sedang menyelidiki kasus potensial lainnya dan melakukan pelacakan kontak untuk menentukan penyebaran virus di seluruh negara bagian.

"Banyak yang tidak kami ketahui tentang varian baru COVID-19 ini, tetapi para ilmuwan di Inggris memperingatkan dunia varian itu jauh lebih menular. Kesehatan dan keamanan masyarakat Colorado adalah prioritas utama kami, dan kami juga akan memantau kasus ini dengan mencermati semua indikator COVID-19, sangat erat," kata Polls dikutip dari Associated Press.

Varian baru virus corona yang dikenal sebagai B.1.1.7, juga telah ditemukan di Kanada, Italia, India, dan Uni Emirat Arab.

Biden: Rencana vaksinasi Trump jauh tertinggal

Presiden terpilih AS Joe Biden memperingatkan bahwa situasi COVID-19 yang mengerikan di AS mungkin tidak akan mereda "hingga Maret."

"Beberapa minggu dan bulan ke depan akan menjadi sangat sulit - periode yang sangat sulit bagi bangsa kita, mungkin yang paling sulit selama masa pandemi ini," katanya.

Dilaporkan rumah sakit semakin kewalahan menerima pasien COVID-19 di mana pada hari Senin (28/12) tercatat lebih dari 121.000 pasien dirawat, jumlah kasus tertinggi selama pandemi melanda di AS.

Biden yang akan menggantikan Donald Trump pada 20 Januari mendatang, menyebut vaksinasi massal sebagai "tantangan operasional terbesar yang pernah dihadapi sebagai sebuah bangsa" - dan berjanji akan melakukan upaya yang lebih baik setelah dia menjabat.

"Rencana administrasi Trump untuk mendistribusikan vaksin jauh tertinggal," kata Biden. "Saya akan bekerja sangat keras untuk membawa kita ke arah yang benar."

Sebelumnya pemerintahan Trump telah memperkirakan bahwa 20 juta orang Amerika akan disuntik vaksin pada akhir Desember, tapi tampaknya target itu akan meleset. Sejauh ini baru sekitar 2,1 juta penududuk AS yang telah menerima suntikan vaksin pertama, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Biden berjanji untuk memberikan 100 juta dosis vaksin dalam 100 hari pertamanya menjabat seraya mengatakan hal tersebut bergantung pada anggaran dana yang diberikan Kongres.

Biden juga mengatakan akan menggunakan UU Produksi Pertahanan era Perang Korea untuk memaksa industri swasta meningkatkan produksi. "Kami merencanakan seluruh upaya pemerintah dan kami akan bekerja untuk menyiapkan lokasi-lokasi vaksinasi dan mengirim unit lapangan ke masyarakat yang sulit dijangkau," kata Biden.

Hingga berita ini diturunkan, AS telah mencatat lebih dari 19,5 juta kasus COVID-19, disusul India dengan lebih dari 10,2 juta kasus, dan Brasil dengan lebih dari 7,5 jta kasus. Lebih dari 338 ribu orang di AS meninggal dunia karena COVID-19.

rap/ha (ap, afp)