Konflik Rusia-Ukraina, Adu Kuat 2 Jenderal Perang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pergerakan pasukan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia ke perbatasan timur Ukraina, menandai ambisi Negeri Beruang Merah untuk kembali mencaplok wilayah negara yang pernah masuk dalam wilayahnya. Tak hanya itu, perseteruan Rusia-Ukraina juga bisa jadi ajang adu kuat dua panglima militer.

Menurut catatan VIVA Militer yang dikutip dari Kantor Berita Rusia, TASS, ketegangan Rusia dan Ukraina bermula pada 2014 silam.

Ketengagan kedua negara dipicu oleh peristiwa Pencaplokan Krimea oleh Republik Federal Rusia. Pasca klaim Rusia atas Krimea, puluhan ribu demonstran turun ke jalan Ukraina untuk menentang aksi sepihak Rusia tersebut.

Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia dan Angkatan Bersenjata Ukraina juga menyiagakan pasukannya. Tercatat, militer Rusia menyiagakan 30 ribu pasukannya. Sementara itu, militer Ukraina juga merespons dengan pengerahan 22 ribu pasukan.

Setelah kejadian tersebut, muncul gerakan pemberontakan di sejumlah wilayah di Ukraina yang ditengarai dilakukan oleh milisi pro-Rusia. Beberapa diantaranya adalah Perang Donbass, dan Perang Ilovaisk, yang juga terjadi pada 2014.

Khusus untuk Perang Donbass, Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina saat ini, Letnan Jenderal Ruslan Khomchak adalah komandan sektor dalam konfrontasi bersenjata tersebut.

Khomchak yang pernah menduduki posisi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Ukraina. Di bawah kepemimpinan Khomchak, Angkatan Darat Ukraina yang menjadi salah satu komponen yang membantu pasukan paramiliter pro-Ukraina.

Namun demikian, Khomchak dan pasukannya menerima kekalahan telak dari kelompok separatis Republik Rakyat Donetsk (DPR). Di sisi lain, Ukraina meyakini bahwa kelompok separatis Republik Rakyat Donetsk mendapat dukungan penuh dari Angkatan Bersenjata Federasi Rusia.

Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia yang berada di bawah pimpinan Jenderal Valery Gerasimov, membantah keras tudingan tersebut. Gerasimov yang diangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Federasi Rusia sejak 6 November 2012, diyakini Ukraina punya peran penting sebagai penyokong separatis.

Tak hanya di Perang Donbass, di bawah komando Gerasimov pasukan militer Rusia juga berhasil mengalahkan militer Ukraina dalam Perang Ilovaisk.

Menurut data lain yang dikutip VIVA Militer dari UNIAN, Perang Ilovaisk terjadi pada 7 Agustus 2014. Saat itu, Angkatan Bersenjata Ukraina dan kelompok paramiliter Ukraina memulai serangan ke Ilovaisk, untuk merebut kota tersebut dari tangan separatis pro-Rusia.

Namun demikian, Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina saat itu, Jenderal Viktor Muzhenko, mengakui kekalahan pihaknya dalam Perang Ilovaisk. Pada 26 Agustus 2016, Muzhenko memastikan bahwa ia menarik mundur pasukannya karena ada keterlibatan pihak militer Rusia.