KONI ingin panahan seperti bulu tangkis dan angkat besi

·Bacaan 2 menit

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Marciano Norman ingin cabang olahraga panahan bisa seperti bulu tangkis dan angkat besi yang memiliki tradisi emas di setiap kejuaraan, utamanya Olimpiade.

"Kita harapkan pada Olimpiade yang akan datang mereka bisa berprestasi seperti yang pernah dicapai di Olimpiade Korea Selatan 1988," ujar Marciano saat meninjau pelaksanaan pertandingan panahan PON XX Papua di Kompleks Olahraga Kampung Harapan, Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Rabu.

Untuk mencapai harapan itu, kata dia, maka diperlukan pembinaan yang berkesinambungan sejak usia dini. Penyelenggaraan PON juga dapat dijadikan sebagai langkah untuk melakukan pembibitan atlet.

Maka dari itu, ia mendorong PB Perpani untuk menjadikan PON ini sebagai ajang pencarian bakat agar dapat muncul srikandi-srikandi/pemanah yang bisa menjadi tumpuan Indonesia di masa depan.

"Kepada PB Perpani saya minta dalam event ini saya harap ada atlet-atlet baru yang muncul yang nanti jadi atlet masa depan kita. Saya harap agenda panahan bisa selesai dengan menghasilkan atlet-atlet yang berprestasi. Tidak saja kebanggaan daerahnya tapi juga kebanggaan kita semua," ujar Marciano.

Baca juga: Atlet panahan olimpiade masih jadi andalan daerah di PON Papua
Baca juga: Kondisi angin tak menentu jadi tantangan atlet panahan PON Papua

Di satu sisi, ia juga mendorong para atlet untuk menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, karena merupakan ruh dari olahraga prestasi.

"Laksanakan PON ini sebaik-baiknya junjung fairplay, sportivitasnya harus kita jaga, dan dengan penerapan prokes yang ketat," katanya.

Sementara itu dalam babak kualifikasi nomor recurve putra, Bagas Prastiadi (Jateng) menjadi yang terbaik dan lolos ke babak kualifikasi setelah mengumpulkan skor 645, diikuti Arif Dwi Pangestu (D.I Yogyakarta) skor 645, dan Ryan Rafi Adiputro (Banten) skor 644.

Nomor recurve putri, Reza Octavia asal Papua menjadi yang terbaik dengan perolehan skor 640, disusul Diananda Choirunnisa (Jatim) skor 639, dan Linda Lestari (Kalteng) skor 635.

Nomor compound putra, I Komang Gde Krishnanda asal Bali menjadi yang terbaik setelah mengumpulkan skor 684, Mohamad Mondir (Aceh) skor 684, dan Prima Wisnu Wardhana (D.I Yogyakarta) skor 680.

Nomor compound putri terbaik diperoleh Aprilia Dwi Novitasari asal DKI Jakarta dengan skor 683, Odilla Zaneta (D.I Yogyakarta) skor 676, dan Tiara Sakti Ramadhani (Jatim) skor 674.

Baca juga: Atlet panahan Kalbar latihan pemantapan skill di Jayapura
Baca juga: Panahan Jabar targetkan 4 medali emas PON Papua
Baca juga: Jambi andalkan pemanah pelatnas raih emas PON Papua

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel