KONI minta pelatih buat program latihan baru

Aditya Eko Sigit Wicaksono

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman meminta kepada semua pelatih cabang olahraga untuk membuat program latihan baru memasuki tatanan normal baru yang akan diterapkan setelah pandemi.

Sebagian atlet saat ini terpaksa berlatih secara mandiri di rumah setelah dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Kondisi tersebut, menurut Marciano, akan berdampak pada persiapan mereka menuju kejuaraan single maupun multi event yang padat di tahun depan.

Oleh karena itu, pelatih harus bisa membuat program latihan baru menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Baca juga: NOC: Normal baru dorong pengembangan kreativitas pembinaan atlet

Baca juga: Ahsan ambil sisi positif dari penundaan Olimpiade Tokyo


"Yang penting para pelatih harus bisa memprogram kembali latihan para atlet yang disiapkan untuk kejuaraan agar bisa mencapai puncaknya pada 2021 ," kata Marciano dalam telekonferensi pers di Jakarta, Rabu.

"Atlet-atlet daerah disiapkan untuk PON 2021, lalu ada juga yang difokuskan SEA Games. Pelatih harus memprogram ulang latihan sehingga di Vietnam tahun depan (atlet) bisa mengulang prestasi seperti di Manila," katanya menambahkan.

Pada kesempatan yang sama, para atlet juga mengeluhkan tantangan ketika harus latihan mandiri di rumah. Program latihan yang sudah direncanakan sejak awal oleh jajaran pengurus besar cabang olahraga pun banyak yang gagal terlaksana.

Pemanah Riau Ega Agatha, misalnya, menyampaikan bahwa dia dan rekan-rekannya seharusnya menjalani uji coba ke luar negeri pada Maret lalu, namun seiring dengan adanya pandemi, kejuaraan tersebut resmi dibatalkan.

Kondisi pandemi yang tak kunjung berakhir ini juga membuat PP Perpani belum menentukan dimulainya kegiatan pelatnas, sehingga program latihan, kata Ega, masih mengikuti arahan pelatih di daerah.

Baca juga: Program pelatnas atletik di rumah dinilai kurang maksimal

Baca juga: Pelatih siapkan program untuk Greysia/Apriyani jelang Olimpiade Tokyo

Atlet lainnya, Edgar Xavier Marvelo, mengeluhkan kesulitan yang ia hadapi ketika harus berlatih di rumah dengan ruang gerak yang sangat terbatas.

"Kendala agak banyak. Wushu membutuhkan tempat latihan yang luas dan empuk. Latihan tidak maksimal dan hanya latihan dasar saja," kata Edgar.

Hal senada disampaikan atlet taekwondo Defia Rosmaniar yang mengatakan bahwa berlatih sendiri di rumah tanpa lawan tanding cukup membosankan.

"Latihan sendiri dan tidak ada lawan tanding jadi sedikit bosan. Atlet yang satu daerah juga masih takut-takut untuk keluar," ujarnya.

Baca juga: Eko Yuli dan berkah di balik penundaan Olimpiade

Baca juga: Pelatnas NPC terhenti, atlet paralimpiade kehilangan mata pencarian