Konsumen Makin Selektif, Industri Pulp dan Kertas Terapkan Prinsip Ini

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVAIndustri berskala besar berbahan baku kayu yaitu pulp dan kertas sering kali bersinggungan dengan berbagai persoalan terkait lingkungan, kebakaran hutan dan lahan. Apalagi selain membutuhkan lahan yang luas, jam produksi pabrik sektor itu pun yang tiada henti.

Dari sisi pasar, industri itu pun menghadapi tantangan baru yaitu green consumers. Mereka adalah para konsumen yang lebih memilih produk tidak membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan.

Merespons hal tersebut, Pelaksana tugas Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian, Edy Sutopo mengungkapkan, industri pulp dan kertas terus berinovasi menerapkan proses produksi yang berkelanjutan.

Baca juga: Waskita Berduka, Komisaris Independen Viktor Sirait Meninggal Dunia

Menurutnya, saat ini berbagai upaya masih terus dikembangkan demi menyelesaikan tantangan tersebut. Namun ditegaskan, industri itu berkomitmen untuk pelestarian lingkungan.

“Saya kira semua industri komit dengan isu lingkungan ini karena memang kalau kita lihat secara hukum, industri di Indonesia dikembangkan dengan prinsip green consumerism,” ucap Edy dalam webinar bertema ‘Mewujudkan Industri Pulp dan Kertas yang Berkelanjutan’ pada Kamis, 18 Februari 2021.

Terkait, produk ramah lingkungan mulai lebih banyak dipilih oleh konsumen, dia mengatakan, hal tersebut lah yang jadi salah satu dasar industri kertas dan pulp komitmen jaga lingkungan. Selain aspek bisnis, keselamatan konsumen juga jadi perhatian dalam produksi.

Lebih lanjut Edy menambahkan, industri Pulp dan kertas Indonesia hingga kini masih memiliki daya saing yang kuat. Saat ini Industri Pulp menempati peringkat 8 dunia dan industri kertas peringkat 6 dunia.

Dia menjelaskan, industri pulp dan kertas RI memiliki daya saing tinggi karena salah satunya memiliki potensi bahan baku Pulp dan Kertas yang cukup besar. Khususnya penyediaan kayu dari Hutan Tanaman Industri (HTI).

Bahkan menurutnya, Indonesia memiliki potensi hutan nomor 3 terbesar di dunia, setelah Brasil dan Zaire. Keunggulan itu dalam bidang luas area dan potensi produksi hasil hutan.

"Dengan iklim tropis, produksi kayu tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan hutan di negara pesaing yang beriklim sub tropis," jelasnya.

Dari sisi pasar kata Edy, permintaan global akan produk industri pulp dan kertas, baik di dalam negeri maupun ekspor masih menjanjikan. Antara lain produk kertas tissue, kertas kemasan.

Dengan tren transaksi e-Commerce yang semakin meningkat, dapat mendorong kebutuhan kertas untuk kemasan kertas dan karton akan tumbuh. Pasar industri ini pun semakin luas.

“Selain potensi dari kebutuhan kertas, industri pulp juga saat ini sudah berkembang untuk produk hilir lainnya. yaitu produk dissolving pulp sebagai bahan baku rayon untuk industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil),” jelasnya.