Konsumsi Daging Anjing di Solo Turun

Merdeka.com - Merdeka.com - Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) mengatakan, saat ini konsumsi olahan daging anjing di Kota Solo menurun dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tersebut salah satunya disebabkan komitmen Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang berencana membuat regulasi pelarangan konsumsi olahan daging anjing.

"Sekarang sudah berkurang. Mungkin ada statement dari pak wali yang mulai membuka niatan untuk menyelesaikan perdagangan anjing," kata Koordinator dan Perwakilan DMFI Solo, Mustika usai bertemu Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, Rabu (21/9).

Apalagi, lanjut Mustika, Gibran menyampaikan kebijakan itu untuk kepentingan dan citra Kota Solo. Sehingga ada pengurangan peredaran daging anjing, baik dari pedagang maupun konsumen olahan daging anjing.

"Benar ada pengurangan. Karena efek jera juga terjadi pada mereka," ujarnya.

Dia menerangkan, konsumsi daging anjing di Kota Solo dalam sehari berkisar antara 85-90 ekor per hari pada tahun 2019.

"Kalau penemuan kami yang tahun 2019 itu perharinya 85 sampai hampir 90 ekor per hari. Untuk warung dari Kami ada 82 warung di Solo saja," ungkapnya.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka berjanji untuk segera membuat aturan maupun solusi bagi 82 pemilik warung olahan daging yang masih beraktivitas.

"Kita nggak mungkin langsung melarang tapi mencarikan solusi yang baik juga," terangnya.

Gibran juga meminta DMFI untuk membantu mencari solusi agar suplai anjing ke Solo dihentikan. Karena selama ini suplai daging anjing maupun anjing hidup dilakukan dari luar kota.

"Ini ada supplier besar, di kota itu atau provinsi itu harus membuat regulasi menyetop para supplier anjing," katanya.

Disinggung kapan surat edaran (SE) pelarangan peredaran daging anjing diterbitkan, Gibran belum bisa memastikan. Namun ia berjanji untuk segera menindaklanjuti usai pertemuan dengan DMFI.

"Nanti kita tindaklanjuti, kan sudah ketemu. Artinya saya punya komitmen untuk memperbaiki ini semua. Saya tahu kok, yang protes banyak, yang menjelek jelekkan banyak. Ini kan sudah ketemu, sudah ada solusi, nanti kita tindaklanjuti," jelasnya.

Disinggung tentang penutupan warung daging anjing, Gibran mengaku baru akan melakukan sosialisasi. Ia tidak mau hanya para pedagang yang disalahkan, namun juga para konsumen.

"Penggemarnya itu banyak. Nanti kita lakukan edukasi edukasi dan kita tambahi sama regulasi yang kuat. Pokoknya dari masa transisi dari daging anjing ke daging lain itu harus kita didampingi. Nggak mudah mata pencahariannya disitu, harus kita dampingi," pungkas Gibran. [fik]