Konsumsi Rumah Tangga di Desa Naik, Upah Buruh Tani Jadi Rp 56.470 per Hari

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan upah harian pada buruh tani di Maret 2021. Secara nominal, upah buruh tani naik 0,17 persen dari Rp 56.373 per hari menjadi Rp 56.470 per hari.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, jika dihitung secara riil, upah buruh tani secara harian tetap mengalami kenaikan tipis berkat adanya peningkatan indeks konsumsi rumah tangga di desa, yakni dari Rp 52.430 menjadi Rp 52.461.

"Pada bulan Maret ini terjadi kenaikan indeks konsumsi rumah tangga di pedesaan sebesar 0,11 persen. Maka upah riil buruh tani pada Maret ini masih meningkat, meskipun tipis sekali yaitu 0,06 persen," jelasnya dalam sesi teleconference, Kamis (15/4/2021).

Kenaikan upah nominal dan riil buruh tani ini agak berbeda dengan upah harian buruh bangunan. Suhariyanto melanjutkan, meski secara nominal upah buruh bangunan naik 0,02 persen menjadi Rp 90.971 per hari, namun upah riil justru turun 0,06 persen dari Rp 85.750 menjadi Rp 85.699.

"Secara nominal itu hampir flat, naiknya tipis sekali, 0,02 persen. Dan karena pada bulan Maret ini terjadi inflasi sebesar 0,08 persen, maka secara riil upah buruh bangunan ini turun 0,06 persen," terangnya.

Pada kesempatan yang sama, BPS juga merilis besaran upah buruh potong rambut wanita per kepala dan upah asisten rumah tangga per bulan pada Maret 2021 ini.

Untuk upah buruh potong rambut wanita per kepala, itu mengalami kenaikan sebesar 0,03 persen dari Februari 2021, dari Rp 28.909 menjadi Rp 28.917. Namun, upah riil pada Maret 2021 ini juga turun 0,05 persen dari bulan sebelumnya, dari Rp 27.255 menjadi Rp 27.242.

Sementara untuk upah asisten rumah tangga per bulan juga meningkat 0,28 persen pada Maret 2021, dari Rp 421.798 menjadi Rp 422.979. Begitu pula upah riil bulan ini yang naik 0,20 persen dari Februari 2021, dari arp 397.674 menjadi Rp 398.469.

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 1,57 Miliar di Maret 2021

Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mencatat, neraca perdagangan pada Maret 2021 surplus sebesar USD1,57 miliar. Surplus tersebut terjadi akibat nilai ekspor tercatat lebih tinggi sebesar USD18,35 miliar sedangkan posisi nilai impor sebesar USD14,07 miliar.

"Selama bulan Maret 2021 ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD1,57 miliar," katanya dalam rilis BPS, di Kantornya, Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Dia mengatakan, surplus ini jauh lebih bagus jika dibandingkan neraca perdagangan pada Maret 2020, yang pada waktu itu mengalami surplus hanya USD0,72 miliar. Juga meningkat dibandingkan surplus pada Maret 2019 yang hanya sebesar USD0,70 miliar.

"Jadi kalau kita lihat berdasarkan sektor penggunaan barangnya performa ekspor dan impor pada Maret 2021 ini sangat bagus sekali. Karena ekspor meningkat 30,47 persen. Sementara impornya juga naik tinggi 25,73 persen," jelasnya.

Dia menambahkan, pada Maret 2021 ini Indonesia mengalami surplus dengan beberapa negara. Beberapa diantaranya adalah Amerika Serikat neraca dagang RI Surplus USD1,3 miliar, Filipina USD592 juta dan India USD502 juta.

Sebaliknya dengan beberapa negara neraca perdagangan Indonesia juga masih mengalami defisit. Seperti pada Australia tercatat minus USD529 juta, Korea Selatan minus USD503 juta dan Thailand minus USD281 juta.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: